
Nama astuti begitu berarti untuk Indri Greg Hambali. Pada seorang perempuan bernama indah itu ia memanggil Bunda. 'Orang yang paling berjasa dalam hidup saya,' kata Indri. Bukti kasih pada sang Ibu, nama astuti disematkan pada aglaonema elok berbatik merah silangan tergres Greg Hambali - suami tercinta.
Dua puluh tujuh tahun Greg menyilang aglaonema, hampir semua nama orang terdekat pasangan itu diambil sebagai nama silangan. Sebut saja srikandi, nama adik; madame suroyo sahabat keduanya, dan tiara; anak rekan Greg. 'Kini giliran Bunda,' ujar Indri.
Sifat astuti mirip tiara: mudah tumbuh kompak. Namun, ukuran daun lebih kecil. Bercak batiknya kecil-kecil. Tangkai daun yang kokoh tidak panjang tapi juga tidak pendek. Produksi anakan 2 - 7 buah. Astuti relatif tahan serangan hama dan penyakit. Pada sehari setelah perayaan Valentine 14 Februari 2009 astuti akan diperkenalkan pada hobiis. Ada sekitar 100 paket astuti yang disiapkan untuk momen kasih sayang itu.
Jumbo
Selain astuti, ada lagi aglaonema terbaru dari tangan Greg. Sebut saja tamara, arini, hughes, dan molek. Dua yang disebut pertama sudah berpindah tangan kepada Hendra Wijaya, pemilik Elegant Flora, sejak 6 bulan silam. Tamara berbatang besar dan kokoh. Corak pun cantik: berbercak batik warna merah jambu. Bentuk daun mirip tiara, ujung meruncing. Tamara dibandrol Rp60-juta per 3 daun alias Rp20-juta per daun.
Arini tak kalah cantik. Daun besar dengan pinggiran agak melekuk ke atas. Penampilannya menyolok lantaran berbatik merah. Harganya? Juga fantastis: Rp40-juta per 5 daun. Hughes beda lagi. Aglaonema yang kini dikoleksi Songgo Tjahaja di Jakarta Barat itu berdaun jumbo seperti moonlight dan esmeralda.
'Hughes termasuk aglaonema bersosok besar,' kata Songgo. Di tangannya, sri rejeki yang diperoleh 10 bulan silam itu baru sekali beranak. Toh Songgo yakin, jika perawatan lebih optimal tanaman sehat dan anakan pun cepat dihasilkan. Si bongsor dibandrol Rp5-juta per daun.
Molek ada di Kalimalang, Jakarta Timur. Kerabat anthurium itu didapat si empunya, Harry Setiawan, 3 tahun silam. Waktu itu baru berdaun 5 lembar. Bentuk daun molek bulat sedang. Batang kokoh dan sosok kompak. Ia cantik tampil tunggal maupun majemuk. Dengan perawatan tepat, setiap indukan dengan 12 daun menghasilkan 10 anakan dan cucu dalam 1 tahun. 'Tanamannya pun bandel dan tak ringkih,' ujar pemilik Irene Flora itu. Harganya lebih terjangkau, Rp750.000 per daun.
Tebal
Harry juga punya intan. Sri rejeki yang diperoleh setahun silam dari Th ailand itu kompak dengan tangkai daun pendek. Sayang, intan pelit beranak sehingga jumlah tanaman masih terbatas. Bandrolnya Rp1,5-juta per pot tanaman 6 - 7 daun.
Jenis baru lain, jolie. Aglaonema asal negeri Siam koleksi Gunawan Widjaja di Sentul, Bogor, itu berdaun tebal mirip moonlight. Untuk perbanyakan perlu perlakuan ekstra. Sri rejeki yang diperoleh 3 tahun silam itu harus sudah dewasa dan sehat. Hingga kini Gunawan hanya punya 3 pot.
Di negeri Gajah Putih Trubus melihat langsung parade silangan terbaru di Nonthaburi. Di sana ada sri rejeki berdaun lanset dengan tulang daun warna merah, aglaonema turunan cochin berdaun tegak, hingga dominan merah. Mana yang Anda pilih untuk Hari Kasih Sayang? (Rosy Nur Apriyanti)
Source : http://www.trubus-online.co.id
Jumat, April 03, 2009
Ratu Kasih Sayang di Tahun Kerbau
Diposting oleh ' di Jumat, April 03, 2009 |
Label: aglaonema, Greg Hambali, hari valentine, tanaman hias
Senin, Desember 15, 2008
Aglaonema Masa Depan
Jewel siam mendapat pujian dari Gregorius Garnadi Hambali. Aglaonema silangan Sutthi Klin-U-Thai yang dipamerkan di Suan Luang, Bangkok, Thailand, awal Desember 2007 itu disebutnya berpenampilan bagus.
Wajar bila Greg kagum pada jewel siam. 'Daun bulat, besar, dan bercaknya menarik serta menyebar,' kata penyilang aglaonema kawakan asal Bogor itu. Umumnya aglaonema asal Thailand bercorak splash, berwarna solid, dan polos mengikuti sifat induknya, Aglaonema cochinchinense. Menurut Greg, hibrida silangan Sutthi itu mirip varian ruby, tapi warna hijau lebih kuat dan bercak merah menyebar. Pola bintik-bintik seperti itu biasanya sifat yang diturunkan A. brevispathum.
Warna merah sudah tak asing lagi, pasti diturunkan oleh A. rotundum. Namun, Sutthi tak menggunakan aglaonema spesies asal Sumatera itu, tapi turunannya-chawang. Maklum, rotundum sulit dikembangkan di Thailand. Kelebihan lain, jewel siam berdaun raksasa. Panjang daun 33 cm dan lebar 18 cm. Lazimnya, panjang daun aglaonema rata-rata 20-25 cm dengan lebar 10-15 cm.
Menurut Greg A. commutatum 'tricolor' bisa menurunkan sifat daun bulat dan besar. Dengan melihat sifat-sifat yang diturunkan aglaonema-aglaonema spesies tersebut, wajar bila Handry Chuhairy, praktisi tanaman hias di Serpong, Tangerang, menduga jewel siam hasil silangan (A. commutatum x A. brevispathum) x chawang.
Layak tampil
Sebenarnya hibrida aglaonema tipe daun bulat dan besar sudah lama dihasilkan oleh Greg. Sebut saja esmeralda, moonlight, dan kresna. Namun, warna daun masih didominasi hijau dan bentuknya cekung. Sementara jewel siam, 'Sudah flat sehingga akan membentuk suatu tanaman pot plant yang kompak,' ujar Handry.
Sayang, 'Jewel siam tidak memenuhi syarat sebagai sosok untuk dikembangkan secara komersial. 'Sebagai varian ia menarik, tapi perlu diperbaiki lagi,' kata Greg. Itu karena hibrida asal Thailand itu berdaun tipis, lemas, tangkai relatif panjang, dan jarak antardaun lebar. Penampilannya lebih menarik dalam kelompok atau dengan anakan.
Menurut Greg tipe aglaonema masa depan bisa berdaun lebar, bulat, kecil, atau panjang. Yang paling utama sosoknya kokoh, kompak, banyak anakan, kombinasi warna menarik, dan memiliki corak baru. Dengan begitu layak tampil dan bisa dikembangkan secara komersial.
Serupa
Penelusuran Andretha Helmina, wartawan Trubus, di Thailand, aglaonema baru yang benar-benar berpenampilan beda sangat susah didapat. Itu karena, 'Dari 1.000 biji aglaonema yang ditanam paling hanya 20 saja yang penampilannya benar-benar beda,' kata Pramote Rojruangsang, penyilang di Pathumthani, Thailand. Buktinya, jenis seragam Trubus temui pada aglaonema silangan Tjiew-sapaannya. Corak daun dominan splash merah lantaran masih keturunan cochin. Namun, tangkai daun jadi lebih pendek dan warna daun terlihat lebih terang daripada generasi sebelumnya.
Penampilan sedikit berbeda terlihat pada aglaonema koleksi Nuu Wong Tse di Samuth Songkhram. Daun muda berwarna merah dan bercorak batik, semakin tua berubah menjadi hijau kekuningan. Mangkonyok, itulah nama hibrida aglaonema yang ditanam dalam media cocochip dan serasah daun bambu dengan perbandingan 2:1. Aglaonema yang namanya berarti giok naga dalam bahasa Thailand itu dijual seharga 100.000 bath/pot atau setara Rp33.000.000/pot.
Nun di Cilandak, Jakarta Selatan, Trubus menemui hibrida baru silangan Thailand koleksi Henry Biantoro. Hibrida itu diperoleh 1,5 tahun silam dari teman di Dumai, Riau. Ukuran daun aglaonema bercorak batik itu besar: panjang 31,5 cm dan lebar 16 cm. Tangkai daun panjang sehingga penampilannya terlihat lebih menarik ketika ada anakan.
Dua aglaonema baru juga terlihat di Sentul, Bogor. Penampilan salah satu anggota famili Araceae itu mirip butterfly. Namun, corak daun lebih cerah, warna tulang daun lebih merah, dan daun lebih tebal. Sosok butterfly varian baru koleksi nurseri Wijaya itu terlihat mempesona lantaran kompak dan rimbun. Lainnya, wijaya red. Ia tampil menarik lantaran bercorak batik warna merah. Sayang, daun berukuran sedang. Beda dengan jewel siam yang besar dan bulat. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Andretha Helmina)
source: www.trubus-online.co.id
Diposting oleh ' di Senin, Desember 15, 2008 |
Label: aglaonema, Greg Hambali, Hibrida, tanaman hias
Senin, Agustus 25, 2008
Agar Aglaonema Tetap Tampil Menawan
Tidak kalah menarik, Aglaonema rotundum yang berasal dari hutan Sumatera. Kekhasannya, warna daun merah gelap dengan garis-garis merah bata.
Amat disayangkan, andai tanaman hias yang dihargai dari jumlah daunnya ini, memudar dan tidak bisa tampil angun menawan lantaran tidak terawat dengan baik.
Hanya ada satu syarat penting bagi pecinta untuk bisa menampilkan Agolnema seperti yang diinginkan. “Perhatikan kebiasaan hidupnya,” saran Greg Hambali, pakar tanaman hias dari Bogor. Aglaonema, lanjut Greg, butuh tempat teduh atau ruang yang mempunyai naungan. Hindarkan dari cahaya matahari secara langsung.
Selain itu, menurut Greg, para penyinya Aglaoneme mesti memperhatikan media tanamannya. Bisa digunakan humus daun dan pasir, dengan perbandingan 3:1. Bisa juga dengan campuran sekam, cocofit, dan pasir, dengan perbandingan 4:1:1. “Pilihlah sekam yang masih bagus atau utuh, bukan yang sudah hancur,” tandasnya. Media tanam yang lain adalah campuran sabut kelapa giling halus, humus, dan pupuk kandang, dengan perbaningan 1:1:1.
Jangan Lupa Pemupukan
Menurut Greg, yang juga pencipta Aglaonema JT 2000 ini, agar Aglaonema tampak rimbun, berdaun besar, tebal, dan mengkilap, dalam perawatan perlu dilakukan aplikasi pupuk yang tepat. Diupayakan daun tidak rontok, karena di situlah nilai jual Aglaonema.
Beragam merk pupuk daun, banyak dijual di pasaran. Tentunya, setiap merk mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pupuk daun yang bisa dipakai misalnya Vitablum, Gandasil B, Hyponex, Vitablon, Kristatlon, atau Gaviota. Pepupukan dilakukan 1—3 minggu sekali. Dosis disesuaikan dengan rekomendasi yang tertera dalam kemasan. Yang jelas, supaya rimbun, Aglaonema perlu mendapat banayk pupuk N (nitrogen).
Greg sendiri tidak begitu fanatik dengan salah satu merek pupuk daun. “Semua pupuk sama, cuma yang dibutuhkan adalah berapa kandungan zat-zat yang dibutuhkan untuk menyuburkan tanaman tersebut,” jelasnya. Selain itu, agar daun Aglaonema selalu tampak lebih mengkilap, daunnya dibersihkan dengan air bersih. Lalu, dilap.
Perlu diwaspadai pula, ada beberapa hama pemakan daun. Bila tidak dikendalikan, daun bisa ludes. Bila Anda mempunyai sedikit koleksi Aglaonema, daun yang terserang hama itu bisa dibuang, dan ulatnya dimusnahkan. Tapi, jika koleksinya banyak, cara satu-satunya hanya dengan melakukan penyemprotan pestisida secara rutin sebulan sekali. (Tri Mardi)
www.agrina-online.com
Diposting oleh ' di Senin, Agustus 25, 2008 |
Label: aglaonema, Greg Hambali, rotundum, Sri Rejeki, sumatera, tanaman hias