Tampilkan postingan dengan label Kolektor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolektor. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 04, 2008

Hobi Tanaman Rp1- M

Suasana vila di puncak bukit di kawasan nan dingin Tretes, Kabupaten Pasuruan, itu begitu asri. Selepas gerbang yang terbuat dari kayu meranti, jalan yang lebarnya cuma bisa dilalui 1 mobil menuntun tamu ke vila bergaya minimalis modern. Di samping kiri pintu masuk sesosok Encephalartos lehmannii setinggi 50 cm dan diameter 20 cm gagah menyambut. Banderol blue encephalartos itu saat diboyong dari Thailand 5 tahun silam Rp60-juta!

Kesan maskulin palem roti yang tumbuh alami di Afrika Selatan itu kontras dengan gemulai nolina di pojok taman dekat selasar penghubung ruang tamu dan ruang santai. Beaucarnea recurvata itu menjulang jangkung setinggi 4 m-hampir menyentuh atap rumah. Pony tail palm yang habitat aslinya di Meksiko itu juga diapungkan dari negeri Siam. Harganya Rp80-juta.

Memasuki areal taman ruang santai yang berpemandangan ke arah Surabaya ada Cycas rumphii 'purba'. Julukan itu pantas ditilik dari susunan ruas batangnya yang sangat rapat. Jumlahnya lebih dari 100 ruas. Setiap ruas mewakili hitungan tahun umur tanaman. Artinya umur anggota famili Cycadaceae asli Australia Utara itu lewat dari 100 tahun! Pantas penampilannya meraksasa: tinggi batang 1,7 m, tinggi tajuk, 2,5 m; bentangan tajuk 4 m. Kusnadi Halim, si pemilik, mesti membayar Rp100-juta demi mendapat si jangkung.

Toh, bukan semata-mata karena berisi koleksi tanaman mahal jika setiap akhir pekan Kusnadi Halim betah ngendon di sana. Suasana asri vila berlokasi di ketinggian 950 m dpl itu memang membuat kerasan. Kesan hijau kian kuat dengan kehadiran 4 E. lehmannii, 2 E. horridus, 2 E. princeps, Cycas 'Glen Idle Blue', Zamia skinneri, dan drasena yang bonggolnya pecah-pecah seperti tempurung kura-kura di sekitar bangunan utama.

Kira-kira 10 m dari situ ada gazebo berhias air terjun mini. Di tepi kolamnya Kusnadi menanam 2 blackboy Xanthorrhoea australis setinggi 40 cm dan 60 cm. Blackboy juga mengisi taman di dekat ruang barbeque. Si batang hitam itu bergandengan dengan Macrozamia moorei, serta-lagi-lagi-E. lehmanii dan Cycas 'Glen Idle Blue'.

Obat jiwa

Ketika embun masih menempel di dedaunan Kusnadi sudah berkeliling taman seluas total 2 ha. Jika terlihat ada tanaman yang sedikit saja merana, Alex Santoso Halim-tenaga ahli kebun-siap-siap kena omelan. Maklum bagi pengusaha tambak bandeng untuk ekspor itu tanaman adalah belahan jiwanya.
Kolektor kuda pacu itu tidak sendirian mabuk kepayang karena tanaman. Di Jakarta seorang pria nekat membongkar bangunan rumah di sebuah hunian elit menjadi tanah rata seluas 3.000 m2. Di atas tanah itu lalu dibuat undak-undakan dari batu alam hingga menyerupai gunung.

Di beberapa bagian dibuat jalan setapak sehingga orang bisa berjalan hingga ke puncak. Di 'gunung' itulah ia menanam keluarga sikas-sikasan. Bukan jenis biasa tapi yang spektakuler. Sebut saja 65 E. hirsutus berbagai ukuran yang membuat Michael D Ferirera, jagoan tanaman hias dari Australia, terbelalak.

Di dunia sikas, hirsutus salah satu idaman. Di alam sudah sangat langka. Warna daunnya biru mempesona. Nurseri-nurseri besar di Afrika Selatan-habitat aslinya-pun hanya punya 1-2 tanaman. Harganya jangan ditanya. Salah satu yang berpola variegata banderolnya US$20.000-US$25.000 setara Rp200-juta-Rp250-juta. 'Itu surganya encephalartos,' kata Chandra Gunawan yang banyak mengoleksi tanaman variegata.

Namun, buat para kolektor memiliki tanaman mahal bukan sekadar urusan membelanjakan rupiah. Ada yang lebih bernilai ketimbang melulu uang. 'Tanaman itu penghilang stres,' ujar drg Thomas Aquinas W Santoso. Minimal 3 kali sehari alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti itu 'menyantap' obat stresnya. Pukul 06.00 sebelum berangkat praktek, pukul 12.00 sepulang praktek pagi, dan pukul 22.00 setelah praktek sore.

Cangkul di Florida

Pada jam-jam itu ayah 1 anak itu pasti ada di teras atau dak lantai 2 rumah. Di sana ia menimang-nimang tanaman koleksi seperti E. munchii dan E. turneri variegata yang baru dibeli 3 bulan silam. Kaudeks munchii baru seukuran bola kasti dengan 4 daun. Daun yang lazimnya kebiru-biruan justru kuning cerah. Harganya? Sekadar perbandingan E. munchii normal berkaudeks 5 cm di salah satu nurseri di Amerika Serikat US$600 setara Rp5,4- juta.

Koleksi lain, Zamia vasquezii berdaun kaku, Zamia furfuracea yang batangnya seperti berserabut, Z. furfuracea berbentuk seperti keong berduri, Z. furfuracea variegata dan berdaun keriting, E. horridus berdaun ekstrarapat, hingga beragam sansevieria variegata.

Bila sudah bertemu dengan para pujaan hati, pangkat, jabatan, dan status sosial para penggila tanaman itu tidak berarti. Di Tangerang, Edi Sebayang yang biasa membawahi ratusan karyawan di perusahaan kayu milik sendiri rela blusuk-blusuk masuk ke perkampungan mencari tanaman aneh. Husny Bahasuan, direktur perusahaan sarung BHS Tex, kerap membawa adenium kesayangan masuk ke kamar. Di sana ia merepotting mawar gurun itu sembari menonton acara televisi.

Sehari-hari Harry Setiawan berbisnis makanan jadi dan mi. Namun, setiap akhir pekan tangan pemenang lelang aglaonema harlequin senilai Rp660-juta itu belepotan media tanam aglaonema.

Polah untuk mendapatkan tanaman pun kerap membuat kening berkernyit. Aris Andi rela menempuh perjalanan darat selama 6 jam dari Bangkok menuju sebuah kota kecil. Di sana ada Dion spinulosum istimewa. Diameter bulb 14 cm, tinggi bulb 35 cm. Tinggi total tanaman 2 m. Yang membetot hati, pelepah daun berwarna kuning-umumnya hijau.

Iwan Hendrayanta sudah melepas Yucca rostrata alba koleksi pada hobiis di Solo senilai Rp45-juta. Namun, setelah itu kelahiran Makassar itu jadi tidak bisa tidur tenang. Yucca berdaun putih keperakan itu selalu membayang di depan mata. Akhirnya dengan dibarter encephalartos dan uang Rp60-juta yucca kembali ke pangkuan.

Edi Sebayang sejatinya cuma kesengsem pada Sansevieria 'Dragon King'. Namun, kolektor ayam serama itu mau tak mau memborong seisi kebun si empunya dragon king. Itu syarat untuk si empunya melepas sansevieria yang di dunia hanya ada 5 tanaman itu.

Abadi

Kenekatan para hobiis untuk mendapat tanaman incaran kadang menyerempet bahaya. Jantung seorang kolektor berdegup keras ketika memasuki bandara internasional di Cape Town, Afrika Selatan. Musababnya di dalam koper ada 50 encephalartos senilai Rp200-juta. Ia membeli tanaman itu secara legal dari Kebun Raya Kirstenbosch. Namun, yang membuat keringat dingin ia tidak sempat mengurus izin impor ke pihak berwenang.

Bila koper dipindai dan terlihat ada encephalartos urusan bisa panjang. 'Untung saja waktu itu tidak ada pemeriksaan X-ray untuk penerbangan lanjutan,' ujarnya lega.
Pengalaman Usnelly Usman tak kalah mendebarkan. Ia sempat diberondong peluru dari senapan milik tentara di sebuah bukit di Aden, Yaman. Itu gara-gara Nelly asyik mengabadikan habitat Adenium arabicum. Untung saja lutut yang nyaris copot terbayar dengan adenium-adenium spektakuler yang ia peroleh dari sana. Sebut saja arabicum yaman berbatang merah dan arabicum golden.

Penelusuran Trubus, kelompok Cycads jadi koleksi utama kolektor kakap. Itu karena, 'Kesannya abadi,' ujar Kusnadi. Nyaris seluruh sikas-sikasan lamban tumbuh. Bentuk tanaman seperti tidak berubah-abadi-meski berumur puluhan tahun. Iwan Hendrayanta salah satu saksinya. Pada 1994 pengusaha perusahaan pemakaman itu menanam E. natalensis di taman di rumah barunya di kawasan Permatahijau, Jakarta Selatan. Palem roti seharga Rp2,7-juta itu ditata berdampingan dengan bromelia, palem-paleman, soka, dan heliconia.

Baru setahun lewat, taman yang semula apik terlihat berantakan. 'Semua tanaman ukurannya cepat membesar dan tajuknya tak beraturan,' keluh ayah putri kembar Nabila Chiara dan Nadira Chianti itu. Satu-satunya yang tidak berubah encephalartos. Jadilah sejak itu keluarga Cycads satu per satu memenuhi tamannya. Ada 50 encephalartos berbagai jenis dengan kisaran harga Rp15-juta-Rp75-juta/tanaman disana. 'Total sekitar Rp1-miliar-Rp1,5-miliar,' kata si empunya.

Lagipula ence dan kerabatnya berkesan gagah dan maskulin. Di halaman rumah Chandra Gunawan yang lapang, sepasang Microcycas menjuntaikan daun raksasa sepanjang lebih dari 1,5 m. Satu-satunya sikas yang epifit itu berasal dari tepian pantai di Panama yang menghadap Samudera Atlantik. Empasan angin bercampur garam membuat kerabat zamia itu tahan banting. Harganya sepasang US$ 30.000 setara Rp300-juta.

Kesan maskulin juga ada pada bonsai dan adenium-terutama jenis nonobesum. Soeroso Soemopawiro mendapat 7 indukan sancang dari Thailand pada 2001. Harga setiap induk Rp10-juta. Di tanahair bahan bonsai populer itu diperbanyak dengan cangkok. Hasil cangkok ditata di atas relief pegunungan. Hasilnya miniatur alam pegunungan yang gagah. Contoh lain adenium asal Tanzania koleksi Rusli Hadinata. Kaudeksnya membulat menyerupai botol dengan tinggi 25 cm lebar 32 cm. Warnanya yang keemasan terlihat megah.

Anak tiri

Target buruan lain ialah tanaman mutasi: bentuk maupun warna. Soeroso Soemopawiro kesengsem pada euphorbia kristata. Batang anggota famili Euphorbiaceae itu melekuk-lekuk membentuk bidang setinggi 40 cm dan lebar 50 cm. Batang crown of god lazimnya langsung meninggi. Cycas revoluta setinggi 60 cm yang seluruh daunnya berwarna kuning jadi klangenan Kusnadi. Koleksi lain Cycas revoluta berdaun keriting dan yang daunnya separuh hijau separuh kuning. Ketiganya didapat dengan merogoh kocek Rp180-juta.

Tanaman mutasi elok lainnya, gasteria variegata, adenium variegata, dan zamia berdaun rawing koleksi Rusli Hadinata, S. gracilis variegata (Edi Sebayang), serta Pandanus utilis variegata dan kaktus berbatang melintir dan miring seperti menara Piza (Chandra Gunawan). Boleh dibilang Indonesia jadi terminal tanaman elok-dan juga mahal-dunia.
Tak dipungkiri mengoleksi tanaman mahal juga berarti prestise. 'Saya inginnya mengoleksi tanaman yang orang lain tidak punya,' kata Husny Bahasuan.

Gara-gara gaya seperti itu banyak tanaman elok kerap tergusur dari deretan koleksinya. Pada 2002 direktur 6.000 karyawan itu mengumpulkan adenium dan aglaonema koleksi terbaru. Waktu itu mawar gurun dan sri rejeki memang mulai naik daun. Harganya masih melangit. Contohnya harga tiara ketika itu Rp3-juta per daun. Sekarang sudah kurang dari setengahnya.

Perlahan 2 belahan jiwa Husny turun pamornya. Harga jauh lebih terjangkau sehingga banyak yang memiliki. Pria yang senang berkaos itu lantas menggusur adenium dari kebun koleksi di Trawas dan Surabaya. Shabi star itu ditanam berjejer di halaman pabrik di Surabaya. Kini penggemar bonsai itu tengah gandrung mengumpulkan tanaman berbonggol alias caudiciform dan euphorbia nonmilii. 'Ini unik dan jarang yang punya,' kata Husny.

Minimal ada 40 caudiciform sudah ia koleksi. Salah satu yang istimewa Raphionacme procumbens. Tanaman itu cuma berupa bonggol seperti batu bundar yang permukaannya datar. Diameternya sekitar 25 cm. Meski sudah setahun tidak mengeluarkan daun, sebetulnya ia masih hidup. Buat para kolektor, cinta selalu membara untuk tanaman pujaan. (Evy Syariefa/Peliput: Destika Cahyana, Imam Wiguna, Nesia Artdiyasa, Rosy Nur Apriyanti, dan Tri Susanti)
Source : www.trubus-online.co.id

Selanjutnya Klik......

Polesan Secantik Mung Mee Srisuk


Penampilan cochine berpaduan warna merah cerah dan hijau pekat milik Songgo Tjahaja, kolektor di Jakarta Barat, itu mempesona. Di dalam pot berdiameter 50 cm, sebatang indukan dikelilingi anakan-anakan hingga membentuk tajuk selebar 1 m. Yang istimewa, sosok tanaman sehat, ukuran daun seragam, dan warna cerah.

Lalu masih ingat pada mung mee srisuk? Aglaonema turunan cochinchinense itu meraih gelar terbaik di kontes tanaman hias Flora dan Fauna 2005. Sosoknya kompak, rimbun, dan warnanya merah pekat menarik. Penampilan dan prestasi yang terbilang spektakuler karena cochine dan turunannya sulit dirawat. Punya cochine prima patut diacungi jempol.

Lihatlah apa yang dialami Gunawan Widjaja di Sentul, Bogor. Aglaonema turunan cochine miliknya mati lantaran busuk. Mula-mula daun menguning, lalu mengering satu per satu. Usut punya usut ternyata media yang digunakan terlalu lembap. Pemilik nurseri Wijaya Orchids itu menggunakan cocopeat sebagai salah satu campuran media.

Sifat cocopeat mengikat air. Padahal, anggota famili Araceae itu menyukai media porous, kering, dan cenderung basa. Maklum, di habitat asal-Myanmar, selatan Thailand, Kamboja, dan Vietnam Selatan-cochine hidup di antara semak-semak tandus atau di bawahnya. Kerabat anthurium itu tumbuh di daerah gersang berbatu dan bukit berkapur.

Pantas Gunawan lantas mengganti bahan media dengan pasir agar porous. Para hobiis sepakat, media kunci sukses merawat cochine agar prima. Di Semarang media yang dipakai campuran sekam bakar yang telah diayak dan pasir malang dengan perbandingan 4:1. Untuk menaikkan pH, ditambahkan kapur dolomit sebanyak 5% dari komposisi media.
Bila rata-rata aglaonema tumbuh maksimal pada pH 6-6,5, cochine dan turunannya tumbuh bagus pada pH 7-8. Pada kondisi itu pertumbuhan tanaman lebih cepat 2-3 kali lipat. Media basa juga membuat warna daun lebih cerah.

Husny Bahasuan di Surabaya menggunakan campuran media seperti di Semarang. Hanya saja perbandingannya berbeda, 3 bagian sekam bakar dan 1 bagian pasir malang. Menurut pemilik perusahaan sarung BHS-Tex itu, cochine dan hibridanya lebih rentan serangan penyakit karena ringkih. Jika media terlalu basah, cendawan datang menyerang akar. Akar busuk dan tanaman mati.

Akar besar

Sifat cochine mirip Caladium sp. Bila media asam dan lingkungan tidak menguntungkan ia dorman atau berhenti tumbuh. Kalau biasanya setiap bulan muncul 1 daun, bisa-bisa dalam 2 bulan tak ada daun muncul.
Cochine dan turunannya memiliki akar besar yang berfungsi menyimpan air dan cadangan makanan. Maklum, ia hidup di daerah bebatuan. Oleh karena itu, menurut Greg Hambali, penyilang aglaonema di Bogor, frekuensi penyiraman sri rejeki itu jangan terlalu sering. Frekuensi cukup 2-3 hari sekali hingga media basah.

Cochine lebih menyukai sinar matahari dibandingkan jenis lain. Karenanya letakkan chinese evergreen itu di tempat yang lebih terang. Bila sri rejeki lain diletakkan di bawah jaring peneduh 60-70%, maka cochine dan hibridanya, 40-50%. Itu berlaku buat hibrida cochine hijau yang senang panas. Sedangkan turunan cochine yang berwarna merah membutuhkan naungan 75%. Selain itu sirkulasi udara harus lancar dan lebih kering.

Agar penampilan dan pertumbuhan tanaman lebih maksimal, berikan pupuk lengkap mengandung unsur mikro satu minggu sekali. Contohnya, Vitabloom, Kristalon, Gandasil, atau Growmore. Dosisnya 1-2 g/l air. Untuk mencerahkan warna daun, berikan pupuk dengan mengutamakan unsur mikro seperti Fe, Mg, Mn, dan Zn. Dengan perawatan yang tepat cochine dan turunannya tampil prima seperti mung mee srisuk.(Rosy Nur Apriyanti)
source :www.trubus-online.co.id

Selanjutnya Klik......

Jumat, Oktober 24, 2008

Pasar Tanaman Hias Mulai Menggeliat

Dari pantauan yang dilakukan mulai menggeliatnya dan maraknya perkembangan ini lebih dipicu pada Hobbies (Penggemar Tanaman)untuk menambah koleksi mereka. Baik Penggemar yang fanatik pada Koleksi tertentu, ataupun penghobbi pemula.

Kebanyakan pembelian dipicu karena rasio harga yang sangat murah, sehingga mengakibatkan tanaman hias menjadi sangat terjangkau harganya. Disamping tanaman hias sekarang sudah menjadi faktor "Must Have" di setiap rumah, sehingga perlahan tapi pasti kebutuhan ini akan terus meningkat.

Kesempatan dan situasi pasar belakangan ini dimanfaatkan oleh sebagian pembeli yang sempat disurvei untuk menambah koleksi yang belum dimiliki ataupun karena form tanaman yang diperoleh sekarang lebih layak dikoleksi. Dahulu akibat harga yang sangat tinggi, yang didapatkan adalah kecambah-kecambah ataupun tanaman dengan satu helai daun saja. Keterpaksaan untuk membeli lebih karena tidak terjangkaunya tanaman tersebut, sehingga kondisi tanaman yang sangat tidak layak disebut tanaman juga dibeli dengan terpaksa.

Bagi Kolektor fanatik, ataupun penghobby kelas berat memanfaatkan situasi pasar yang sepi, untuk mencoba mendapatkan tanaman incarannya. Yang nota bene dahulu dipertahankan mati-matian oleh si empunya, tetapi dengan situasi sekarang mulai goyah pertahanannya. Mengingat kebutuhan biaya untuk kelangsungan hidupnya membuat banyak tanaman tersebut berpindah tangan dengan cepatnya. Tidak jarang tanaman koleksi yang dahulu berharga puluhan juta, sekarang diperoleh dengan harga yang berpuluh kali lebih rendah.

Fenomena yang menarik, berkat keberhasilan seluruh pecinta tanaman hias dan komunitas tanaman hias untuk mencekal aksi tidak terpuji orang-orang tertentu yang menggoreng pasar, dengan tidak mengapresiasi apapun tanaman yang digoreng. Mengakibatkan dunia tanaman hias kembali recovery. Dan aksi goreng menggoreng tidak membawa hasil seperti yang diharapkan. Hal ini dilakukan karena hampir seluruh komunitas tanaman hias prihatin dengan upaya penjegalan terhadap pasar anthurium yang dilakukan kalangan dan media tertentu. yang justru membuat seluruh pasar tanaman hias jatuh terpuruk.

Keberhasilan ini juga membawa hikmah, baik untuk tanaman yang menjadi target untuk digoreng seperti sansevieria, Bromelia, Aglaonema tidak menjadi korban. dan Komunitas tanaman bersangkutan dapat berkembang dengan tenang tanpa dipengaruhi faktor-faktor spekulasi yang merusak ketenangan jiwa dalam berhobbi. Karena akibat permainan tadi harga tanaman menjadi tidak terkendali dan merugikan penghobbinya, pada ujungnya justru membuat tanaman tersebut ditinggal penghobbinya.

Dari ragam tanaman hias tampaknya seluruh jenis tanaman hias baik Anggrek, Adenium, sansevieria, Aglaonema, Anthurium, Philodendron, Bonsai mulai ramai diperjual belikan. Hobbies pun mulai tampak rajin mengunjungi Nursery-nursery yang ada, baik untuk melihat, bertanya ataupun membeli tanaman yang diinginkan.

Situasi ini tentu sangat menggembirakan bagi perkembangan kedepan Dunia tanaman hias di Indonesia. Diharapkan situasi kondusif ini dapat terus bertahan dan membaik.
source : www.duniaflora.com/

Selanjutnya Klik......

PR - KU

S E L E S A I .... BEBAS EUY... ehhhh ada lagi yang kasih PR tapi aku lupa siapa yaaaa yang kasih PR... waktu itu kerjaan ku overload jadi aku minta waktu nah saat ini sedikit lenggang mohon

PENTERJEMAHKU