Tampilkan postingan dengan label Hobbies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hobbies. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 04, 2008

Aglaonema - Flowers or Foliage on a Low Light Plant


Question: I have an Aglaonema that is growing what looks like little “pods”… What are they? Will they hurt the plant? Can I remove them? Katlin, Nashville, TN
Answer: I believe what you are describing is the “flower” of the Aglaonema. The Aglaonema also know as the “chinese evergeen” comes from the Aroid family. This plant family gives us many house plant varieties including the Spathiphyllum, Pothos Philodendron, Anthurium, the ZZ plant and of course the Aglaonema species, but there are others.

Most people are familiar with the Anthurium flower which has become a symbol for the Hawaiian Islands, or the ‘Peace Lily” (Spathiphyllum) one of the most popular houseplants grown around the world for its pure white "hoods" stands above its dark green foliage during the spring.

However, most people are not familiar with the Philodendron or Aglaonema flower. Generally they are not flashy and get lost among the foliage.
The Aglaonema can be a very prolific bloomer, and does at times confuse people. The "flower" is really an inflorescence (a group of flowers on a stem) and is often mistaken for a distorted leaf. This can lead to other mistakes in caring for this durable low light house plant by trying to "fix" the problem.

The flowers look very similar to a Spathiphyllum except for the fact they usually carry a "green hood" and a rather calcified looking spath coming out of it. The "flower" will typically be found below the foliage but can be found easily if you look.

Chinese Evergreen Flower Removal – Yes or No?

The question asked most often on this subject is flower removal – should you remove the flower? And… does it hurt the plant?
My recommendation is YES – remove the flowers. This goes for any variety of Aglaonema – from the species commutatum, Calypso to Silver Queen, Silver Bay or large BJ Freeman, The flowers serve no benefit – to the plant or to look at.

From my experience I’ve noticed an adverse effect from leaving the flower on the plant. Aglaonemas can bloom pretty heavy even if they are “blooms” are insignificant this flower production consumes a lot of energy. The heavy blooming pulls nutrients or energy from the plant. The net result – again from my experience – produces new leaves that are smaller, sometimes distorted and lacking in color appearing pale.

To prevent this potential problem, remove or cut off the flowers as they emerge. Just make sure that you remove the flower and not the leaf!!!
Aglaonemas are great indoor plants which hold up very well in low light and don't require lots of water. New hybrids like "Silver Bay”, “Silverado”, “Jewel of India” can "Calypso” introduced over the last few years are the “new breed” of Chinese Evergreens slowly making their way into the marketplace. These new varieties continue to make the Aglaonema one of the BEST house plants for indoor use.
source : www.plant-care.com

Selanjutnya Klik......

Hobi Tanaman Rp1- M

Suasana vila di puncak bukit di kawasan nan dingin Tretes, Kabupaten Pasuruan, itu begitu asri. Selepas gerbang yang terbuat dari kayu meranti, jalan yang lebarnya cuma bisa dilalui 1 mobil menuntun tamu ke vila bergaya minimalis modern. Di samping kiri pintu masuk sesosok Encephalartos lehmannii setinggi 50 cm dan diameter 20 cm gagah menyambut. Banderol blue encephalartos itu saat diboyong dari Thailand 5 tahun silam Rp60-juta!

Kesan maskulin palem roti yang tumbuh alami di Afrika Selatan itu kontras dengan gemulai nolina di pojok taman dekat selasar penghubung ruang tamu dan ruang santai. Beaucarnea recurvata itu menjulang jangkung setinggi 4 m-hampir menyentuh atap rumah. Pony tail palm yang habitat aslinya di Meksiko itu juga diapungkan dari negeri Siam. Harganya Rp80-juta.

Memasuki areal taman ruang santai yang berpemandangan ke arah Surabaya ada Cycas rumphii 'purba'. Julukan itu pantas ditilik dari susunan ruas batangnya yang sangat rapat. Jumlahnya lebih dari 100 ruas. Setiap ruas mewakili hitungan tahun umur tanaman. Artinya umur anggota famili Cycadaceae asli Australia Utara itu lewat dari 100 tahun! Pantas penampilannya meraksasa: tinggi batang 1,7 m, tinggi tajuk, 2,5 m; bentangan tajuk 4 m. Kusnadi Halim, si pemilik, mesti membayar Rp100-juta demi mendapat si jangkung.

Toh, bukan semata-mata karena berisi koleksi tanaman mahal jika setiap akhir pekan Kusnadi Halim betah ngendon di sana. Suasana asri vila berlokasi di ketinggian 950 m dpl itu memang membuat kerasan. Kesan hijau kian kuat dengan kehadiran 4 E. lehmannii, 2 E. horridus, 2 E. princeps, Cycas 'Glen Idle Blue', Zamia skinneri, dan drasena yang bonggolnya pecah-pecah seperti tempurung kura-kura di sekitar bangunan utama.

Kira-kira 10 m dari situ ada gazebo berhias air terjun mini. Di tepi kolamnya Kusnadi menanam 2 blackboy Xanthorrhoea australis setinggi 40 cm dan 60 cm. Blackboy juga mengisi taman di dekat ruang barbeque. Si batang hitam itu bergandengan dengan Macrozamia moorei, serta-lagi-lagi-E. lehmanii dan Cycas 'Glen Idle Blue'.

Obat jiwa

Ketika embun masih menempel di dedaunan Kusnadi sudah berkeliling taman seluas total 2 ha. Jika terlihat ada tanaman yang sedikit saja merana, Alex Santoso Halim-tenaga ahli kebun-siap-siap kena omelan. Maklum bagi pengusaha tambak bandeng untuk ekspor itu tanaman adalah belahan jiwanya.
Kolektor kuda pacu itu tidak sendirian mabuk kepayang karena tanaman. Di Jakarta seorang pria nekat membongkar bangunan rumah di sebuah hunian elit menjadi tanah rata seluas 3.000 m2. Di atas tanah itu lalu dibuat undak-undakan dari batu alam hingga menyerupai gunung.

Di beberapa bagian dibuat jalan setapak sehingga orang bisa berjalan hingga ke puncak. Di 'gunung' itulah ia menanam keluarga sikas-sikasan. Bukan jenis biasa tapi yang spektakuler. Sebut saja 65 E. hirsutus berbagai ukuran yang membuat Michael D Ferirera, jagoan tanaman hias dari Australia, terbelalak.

Di dunia sikas, hirsutus salah satu idaman. Di alam sudah sangat langka. Warna daunnya biru mempesona. Nurseri-nurseri besar di Afrika Selatan-habitat aslinya-pun hanya punya 1-2 tanaman. Harganya jangan ditanya. Salah satu yang berpola variegata banderolnya US$20.000-US$25.000 setara Rp200-juta-Rp250-juta. 'Itu surganya encephalartos,' kata Chandra Gunawan yang banyak mengoleksi tanaman variegata.

Namun, buat para kolektor memiliki tanaman mahal bukan sekadar urusan membelanjakan rupiah. Ada yang lebih bernilai ketimbang melulu uang. 'Tanaman itu penghilang stres,' ujar drg Thomas Aquinas W Santoso. Minimal 3 kali sehari alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti itu 'menyantap' obat stresnya. Pukul 06.00 sebelum berangkat praktek, pukul 12.00 sepulang praktek pagi, dan pukul 22.00 setelah praktek sore.

Cangkul di Florida

Pada jam-jam itu ayah 1 anak itu pasti ada di teras atau dak lantai 2 rumah. Di sana ia menimang-nimang tanaman koleksi seperti E. munchii dan E. turneri variegata yang baru dibeli 3 bulan silam. Kaudeks munchii baru seukuran bola kasti dengan 4 daun. Daun yang lazimnya kebiru-biruan justru kuning cerah. Harganya? Sekadar perbandingan E. munchii normal berkaudeks 5 cm di salah satu nurseri di Amerika Serikat US$600 setara Rp5,4- juta.

Koleksi lain, Zamia vasquezii berdaun kaku, Zamia furfuracea yang batangnya seperti berserabut, Z. furfuracea berbentuk seperti keong berduri, Z. furfuracea variegata dan berdaun keriting, E. horridus berdaun ekstrarapat, hingga beragam sansevieria variegata.

Bila sudah bertemu dengan para pujaan hati, pangkat, jabatan, dan status sosial para penggila tanaman itu tidak berarti. Di Tangerang, Edi Sebayang yang biasa membawahi ratusan karyawan di perusahaan kayu milik sendiri rela blusuk-blusuk masuk ke perkampungan mencari tanaman aneh. Husny Bahasuan, direktur perusahaan sarung BHS Tex, kerap membawa adenium kesayangan masuk ke kamar. Di sana ia merepotting mawar gurun itu sembari menonton acara televisi.

Sehari-hari Harry Setiawan berbisnis makanan jadi dan mi. Namun, setiap akhir pekan tangan pemenang lelang aglaonema harlequin senilai Rp660-juta itu belepotan media tanam aglaonema.

Polah untuk mendapatkan tanaman pun kerap membuat kening berkernyit. Aris Andi rela menempuh perjalanan darat selama 6 jam dari Bangkok menuju sebuah kota kecil. Di sana ada Dion spinulosum istimewa. Diameter bulb 14 cm, tinggi bulb 35 cm. Tinggi total tanaman 2 m. Yang membetot hati, pelepah daun berwarna kuning-umumnya hijau.

Iwan Hendrayanta sudah melepas Yucca rostrata alba koleksi pada hobiis di Solo senilai Rp45-juta. Namun, setelah itu kelahiran Makassar itu jadi tidak bisa tidur tenang. Yucca berdaun putih keperakan itu selalu membayang di depan mata. Akhirnya dengan dibarter encephalartos dan uang Rp60-juta yucca kembali ke pangkuan.

Edi Sebayang sejatinya cuma kesengsem pada Sansevieria 'Dragon King'. Namun, kolektor ayam serama itu mau tak mau memborong seisi kebun si empunya dragon king. Itu syarat untuk si empunya melepas sansevieria yang di dunia hanya ada 5 tanaman itu.

Abadi

Kenekatan para hobiis untuk mendapat tanaman incaran kadang menyerempet bahaya. Jantung seorang kolektor berdegup keras ketika memasuki bandara internasional di Cape Town, Afrika Selatan. Musababnya di dalam koper ada 50 encephalartos senilai Rp200-juta. Ia membeli tanaman itu secara legal dari Kebun Raya Kirstenbosch. Namun, yang membuat keringat dingin ia tidak sempat mengurus izin impor ke pihak berwenang.

Bila koper dipindai dan terlihat ada encephalartos urusan bisa panjang. 'Untung saja waktu itu tidak ada pemeriksaan X-ray untuk penerbangan lanjutan,' ujarnya lega.
Pengalaman Usnelly Usman tak kalah mendebarkan. Ia sempat diberondong peluru dari senapan milik tentara di sebuah bukit di Aden, Yaman. Itu gara-gara Nelly asyik mengabadikan habitat Adenium arabicum. Untung saja lutut yang nyaris copot terbayar dengan adenium-adenium spektakuler yang ia peroleh dari sana. Sebut saja arabicum yaman berbatang merah dan arabicum golden.

Penelusuran Trubus, kelompok Cycads jadi koleksi utama kolektor kakap. Itu karena, 'Kesannya abadi,' ujar Kusnadi. Nyaris seluruh sikas-sikasan lamban tumbuh. Bentuk tanaman seperti tidak berubah-abadi-meski berumur puluhan tahun. Iwan Hendrayanta salah satu saksinya. Pada 1994 pengusaha perusahaan pemakaman itu menanam E. natalensis di taman di rumah barunya di kawasan Permatahijau, Jakarta Selatan. Palem roti seharga Rp2,7-juta itu ditata berdampingan dengan bromelia, palem-paleman, soka, dan heliconia.

Baru setahun lewat, taman yang semula apik terlihat berantakan. 'Semua tanaman ukurannya cepat membesar dan tajuknya tak beraturan,' keluh ayah putri kembar Nabila Chiara dan Nadira Chianti itu. Satu-satunya yang tidak berubah encephalartos. Jadilah sejak itu keluarga Cycads satu per satu memenuhi tamannya. Ada 50 encephalartos berbagai jenis dengan kisaran harga Rp15-juta-Rp75-juta/tanaman disana. 'Total sekitar Rp1-miliar-Rp1,5-miliar,' kata si empunya.

Lagipula ence dan kerabatnya berkesan gagah dan maskulin. Di halaman rumah Chandra Gunawan yang lapang, sepasang Microcycas menjuntaikan daun raksasa sepanjang lebih dari 1,5 m. Satu-satunya sikas yang epifit itu berasal dari tepian pantai di Panama yang menghadap Samudera Atlantik. Empasan angin bercampur garam membuat kerabat zamia itu tahan banting. Harganya sepasang US$ 30.000 setara Rp300-juta.

Kesan maskulin juga ada pada bonsai dan adenium-terutama jenis nonobesum. Soeroso Soemopawiro mendapat 7 indukan sancang dari Thailand pada 2001. Harga setiap induk Rp10-juta. Di tanahair bahan bonsai populer itu diperbanyak dengan cangkok. Hasil cangkok ditata di atas relief pegunungan. Hasilnya miniatur alam pegunungan yang gagah. Contoh lain adenium asal Tanzania koleksi Rusli Hadinata. Kaudeksnya membulat menyerupai botol dengan tinggi 25 cm lebar 32 cm. Warnanya yang keemasan terlihat megah.

Anak tiri

Target buruan lain ialah tanaman mutasi: bentuk maupun warna. Soeroso Soemopawiro kesengsem pada euphorbia kristata. Batang anggota famili Euphorbiaceae itu melekuk-lekuk membentuk bidang setinggi 40 cm dan lebar 50 cm. Batang crown of god lazimnya langsung meninggi. Cycas revoluta setinggi 60 cm yang seluruh daunnya berwarna kuning jadi klangenan Kusnadi. Koleksi lain Cycas revoluta berdaun keriting dan yang daunnya separuh hijau separuh kuning. Ketiganya didapat dengan merogoh kocek Rp180-juta.

Tanaman mutasi elok lainnya, gasteria variegata, adenium variegata, dan zamia berdaun rawing koleksi Rusli Hadinata, S. gracilis variegata (Edi Sebayang), serta Pandanus utilis variegata dan kaktus berbatang melintir dan miring seperti menara Piza (Chandra Gunawan). Boleh dibilang Indonesia jadi terminal tanaman elok-dan juga mahal-dunia.
Tak dipungkiri mengoleksi tanaman mahal juga berarti prestise. 'Saya inginnya mengoleksi tanaman yang orang lain tidak punya,' kata Husny Bahasuan.

Gara-gara gaya seperti itu banyak tanaman elok kerap tergusur dari deretan koleksinya. Pada 2002 direktur 6.000 karyawan itu mengumpulkan adenium dan aglaonema koleksi terbaru. Waktu itu mawar gurun dan sri rejeki memang mulai naik daun. Harganya masih melangit. Contohnya harga tiara ketika itu Rp3-juta per daun. Sekarang sudah kurang dari setengahnya.

Perlahan 2 belahan jiwa Husny turun pamornya. Harga jauh lebih terjangkau sehingga banyak yang memiliki. Pria yang senang berkaos itu lantas menggusur adenium dari kebun koleksi di Trawas dan Surabaya. Shabi star itu ditanam berjejer di halaman pabrik di Surabaya. Kini penggemar bonsai itu tengah gandrung mengumpulkan tanaman berbonggol alias caudiciform dan euphorbia nonmilii. 'Ini unik dan jarang yang punya,' kata Husny.

Minimal ada 40 caudiciform sudah ia koleksi. Salah satu yang istimewa Raphionacme procumbens. Tanaman itu cuma berupa bonggol seperti batu bundar yang permukaannya datar. Diameternya sekitar 25 cm. Meski sudah setahun tidak mengeluarkan daun, sebetulnya ia masih hidup. Buat para kolektor, cinta selalu membara untuk tanaman pujaan. (Evy Syariefa/Peliput: Destika Cahyana, Imam Wiguna, Nesia Artdiyasa, Rosy Nur Apriyanti, dan Tri Susanti)
Source : www.trubus-online.co.id

Selanjutnya Klik......

Jumat, Oktober 24, 2008

Pasar Tanaman Hias Mulai Menggeliat

Dari pantauan yang dilakukan mulai menggeliatnya dan maraknya perkembangan ini lebih dipicu pada Hobbies (Penggemar Tanaman)untuk menambah koleksi mereka. Baik Penggemar yang fanatik pada Koleksi tertentu, ataupun penghobbi pemula.

Kebanyakan pembelian dipicu karena rasio harga yang sangat murah, sehingga mengakibatkan tanaman hias menjadi sangat terjangkau harganya. Disamping tanaman hias sekarang sudah menjadi faktor "Must Have" di setiap rumah, sehingga perlahan tapi pasti kebutuhan ini akan terus meningkat.

Kesempatan dan situasi pasar belakangan ini dimanfaatkan oleh sebagian pembeli yang sempat disurvei untuk menambah koleksi yang belum dimiliki ataupun karena form tanaman yang diperoleh sekarang lebih layak dikoleksi. Dahulu akibat harga yang sangat tinggi, yang didapatkan adalah kecambah-kecambah ataupun tanaman dengan satu helai daun saja. Keterpaksaan untuk membeli lebih karena tidak terjangkaunya tanaman tersebut, sehingga kondisi tanaman yang sangat tidak layak disebut tanaman juga dibeli dengan terpaksa.

Bagi Kolektor fanatik, ataupun penghobby kelas berat memanfaatkan situasi pasar yang sepi, untuk mencoba mendapatkan tanaman incarannya. Yang nota bene dahulu dipertahankan mati-matian oleh si empunya, tetapi dengan situasi sekarang mulai goyah pertahanannya. Mengingat kebutuhan biaya untuk kelangsungan hidupnya membuat banyak tanaman tersebut berpindah tangan dengan cepatnya. Tidak jarang tanaman koleksi yang dahulu berharga puluhan juta, sekarang diperoleh dengan harga yang berpuluh kali lebih rendah.

Fenomena yang menarik, berkat keberhasilan seluruh pecinta tanaman hias dan komunitas tanaman hias untuk mencekal aksi tidak terpuji orang-orang tertentu yang menggoreng pasar, dengan tidak mengapresiasi apapun tanaman yang digoreng. Mengakibatkan dunia tanaman hias kembali recovery. Dan aksi goreng menggoreng tidak membawa hasil seperti yang diharapkan. Hal ini dilakukan karena hampir seluruh komunitas tanaman hias prihatin dengan upaya penjegalan terhadap pasar anthurium yang dilakukan kalangan dan media tertentu. yang justru membuat seluruh pasar tanaman hias jatuh terpuruk.

Keberhasilan ini juga membawa hikmah, baik untuk tanaman yang menjadi target untuk digoreng seperti sansevieria, Bromelia, Aglaonema tidak menjadi korban. dan Komunitas tanaman bersangkutan dapat berkembang dengan tenang tanpa dipengaruhi faktor-faktor spekulasi yang merusak ketenangan jiwa dalam berhobbi. Karena akibat permainan tadi harga tanaman menjadi tidak terkendali dan merugikan penghobbinya, pada ujungnya justru membuat tanaman tersebut ditinggal penghobbinya.

Dari ragam tanaman hias tampaknya seluruh jenis tanaman hias baik Anggrek, Adenium, sansevieria, Aglaonema, Anthurium, Philodendron, Bonsai mulai ramai diperjual belikan. Hobbies pun mulai tampak rajin mengunjungi Nursery-nursery yang ada, baik untuk melihat, bertanya ataupun membeli tanaman yang diinginkan.

Situasi ini tentu sangat menggembirakan bagi perkembangan kedepan Dunia tanaman hias di Indonesia. Diharapkan situasi kondusif ini dapat terus bertahan dan membaik.
source : www.duniaflora.com/

Selanjutnya Klik......

Situasi Pasar Dunia Flora pertengahan 2008-2009

Seperti yang sudah diprediksikan pada akhir tahun 2007, seiring rekayasa yang dilakukan makelar dan media tanaman hias tertentu ternyata tidak ada yang bisa merubah situasi yang terlanjur terpuruk. Terbukti meskipun ada upaya sporadis dilakukan beberapa pemain untuk menggoyang pasar, tampaknya pasar dan penghobbi flora di tanah air sudah capek dan kehilangan tenaga mengikuti goyangan ngebor pendatang baru yang digoreng. Seperti fenomena goyangan panas di panggung dangdut, yang akhirnya berlalu seiring waktu. Terbukti beberapa tanaman yang digoyang para makelar, seluruh penghobbi hanya menonton pasif. Beberapa tanaman yang berupaya naik mengalami nasib serupa.

Hal yang kontradiksi justru terjadi di aglo, begitu sempat naik, harga malah terkoreksi turun sangat tajam. Berbeda dengan pakem yang biasa terjadi padafenomena sebelumnya. Disinyalir hal ini diakibatkan pemain aglo yang memiliki stok menggelontorkan stoknya, karena kesempatan once in a life time ini, disamping faktor mental yang tidak siap naik secepat itu (takut keburu turun). Sehingga membuat nanar penghobbi dan pemain, karena tidak mengira hal seperti ini akan terjadi (padahal sudah sempat diwanti-wanti sebelumnya).

Setelah Fase Goreng Menggoreng dan upaya tarik menarik kepentingan antara Importir sebagai perwakilan tanaman import dan pemain tanaman hias lokal, sekarang dunia flora tanah air memasuki fase cooling down. Seperti segelas kopi yang selesai diaduk, semuanya mengendap dan kembali menempati posisinya masing-masing.

Penghobbi Adenium yang terlanjur kecanduan moleknya bonggol, penghobbi aglaonema yang tersapu liukan si ratu, penghobbi bonsai yang terpesona kewibawaan sosok sikerdil, maupun penghobbi sanse, kaktus, euphorbia yang tertusuk hatinya oleh duri sitajam, anggrek yag selalu mistis menggoda, ataupun penggemar anthurium yang terpesona urat si raja tidak bisa kelain hati. Semuanya kembali ke esensi Hobby, merawat si tanaman sebaik-baiknya untuk menenteramkan jiwa dan menghilangkan stress.

Hal ini akan berdampak baik pada perkembangan di anah air, dimana masing-masing kelompok hobby akan tetap menekuni bidangnya masing-masing. Disamping harga yang pada umumnya merupakan harga terbaik, mengingat harga sekarang hampir sama dengan harga di thailand. Sehingga untuk Penghobbi dan kolektor yang ingin melengkapi koleksi ataupun memenuhi hasratnya yang lama dipendam, sekarang menjadi saat terbaik untuk berburu. Disamping dari segi faktor stok yang melimpah, sehinga memudahkan untuk memilih barang koleksi pada harga terbaik.

Jika situasi ini terus terjaga, dunia flora kita akan tetap berwarna-warni akan keanekaragaman tanaman hias yang ada dan dikembangkan. Diharapkan kedepan upaya-upaya untuk menjegal perkembangan salah satu tanaman hias yang sedang populer tidak lagi dilakukan, karena hal semacam itu membuat dunia tanaman hias dan pasar yang tengah bergerak laju, distop begitu saja, limbung dan akhirnya jatuh terjerembap. yang justru berakibat menyeluruh dan jatuhnya image dunia tanaman hias tanah air.

Apa yang kami lakukan disini adalah dalam upaya menghentikan sekelompok makelar dan media yang berupaya menjadikan dunia tanaman hias sebagai jajahannya. yang bertentangan dengan apa yang kami yakini bahwa tanman hias itu adalah sahabat dan teman kita. Biarkan semua itu berjalan secara alami, karena pada akhirnya semua memiliki fase alamiah untuk tumbuh, berkembang dan menurun kalau tidak mampu memaintenance pasar ataupun memunculkan inovasi. Penghobbi dan kolektor hanya memerlukan informasi dan panduan memulai menikmati keindahan tanaman hias tertentu sebanyak-banyaknya. tidak perlu tahu hitung2an angka keuntungan yang selama ini justru menyesatkan.

Tidak perlu ada orang-orang yang merasa berkewajiban moral dan menjadi pihak yang berusaha mengintervensi pasar seolah-olah menjadi tangan tuhan. tetapi disisi lain melakukan hal yang sama. Semua Orang merupakan Individu unik dan berbeda, baik sifat, keinginan, kebutuhan, preferensi, keuangan, kesempatan, lingkungan , dll. jadi semua orang akan memulai dari tanaman yang berbeda, dan kecintaan yang berbeda-beda.
source: www.duniaflora.com

Selanjutnya Klik......

PR - KU

S E L E S A I .... BEBAS EUY... ehhhh ada lagi yang kasih PR tapi aku lupa siapa yaaaa yang kasih PR... waktu itu kerjaan ku overload jadi aku minta waktu nah saat ini sedikit lenggang mohon

PENTERJEMAHKU