Tampilkan postingan dengan label Pameran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pameran. Tampilkan semua postingan

Senin, Desember 15, 2008

Dua Miliar Parkir di Senayan

Dua pria kekar berambut cepak berdiri tegak di depan tenda tertutup berukuran 36 m x 16 m. Pengaman swasta berseragam hitam itu menatap waspada setiap pengunjung yang masuk. Di langit-langit ruangan terpasang 12 lensa kamera CCTV yang tersambung layar monitor yang diawasi 2 orang. Total jenderal 6 petugas mengamankan ruangan berisi tanaman senilai Rp2-miliar.
Angka itu nilai total 60 tanaman mewah dari berbagai penjuru Pulau Jawa. Sebut saja Sansevieria eilensis koleksi Iwan Rassat. Harganya Rp55-juta. Yang termahal aglaonema bidadari. Harga per lembar daun Rp15-juta. Dengan 20 daun harga sri rejeki koleksi Harry Setiawan itu Rp300-juta. Tanaman aneh Aglaomorpha sp yang mirip ular pun dipajang di sana.

Pantas pengamanannya superketat. Selain petugas keamanan, sekeliling tenda seluas 576 m2 itu dibentengi pagar besi setinggi 2,7 m. 'Itu untuk menjamin tidak ada penerobos yang masuk mencuri tanaman,' kata Utami Kartika Putri, penanggung jawab acara. Agar tanaman aman dari goresan dan luka, pengunjung dilarang menyentuh tanaman.
Parade tanaman mahal itu membuat pencinta tanaman hias dari Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung rela terbang ke Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat. Kartini Omar, asisten direktur Hotpark, National Park, Singapura, pun memuji. 'Indonesia luar biasa. Sejumlah tanaman langka bernilai tinggi berkumpul di sini,' katanya pada wartawan Trubus, Imam Wiguna. (Destika Cahyana)
www.trubus-online.co.id

Selanjutnya Klik......

Selasa, Desember 02, 2008

Mereka Tetap Primadona

Perhelatan pada 16 November di Parkir Timur Senayan, Jakarta, membuktikan aglaonema masih jadi favorit. Untuk kesekian kali diadakan, kontes siamese rainbow tetap menyedot banyak peserta. Bahkan kontes yang digelar Trubus dan komunitas Aglaonema Indonesia (AI) itu disebut-sebut sebagai yang terbesar karena diikuti 182 peserta.

Wajar bila kontes aglaonema yang pertama kali diselenggarakan oleh AI itu menyedot banyak peserta. Itu karena ada kategori baru yang dilombakan, yaitu remaja-jumlah daun di bawah 10 helai. Dengan begitu tanaman yang belum dewasa, tapi berpenampilan menarik dan sehat bisa ikut lomba. 'Artinya memberi kesempatan hobiis baru untuk mengikutsertakan aglaonemanya di arena kontes,' kata Gatot Purwoko, salah satu juri.

Maklum, selama ini banyak hobiis yang belum percaya diri mengikutsertakan tanaman kesayangan di kontes. Itu karena sri rejeki yang dikoleksi belum dewasa. Nah, dengan dibukanya kelas remaja, aglaonema berdaun 5, 6, atau 7 helai bisa ikut berpartisipasi. Kategori baru pun langsung jadi idola. Buktinya menyedot jumlah peserta terbanyak, 87 tanaman. Kategori lain, tunggal dan majemuk masing-masing 52 dan 43 peserta.

Kualitas rata

Tak hanya jumlah peserta yang menakjubkan. 'Tanaman yang dikonteskan pun berkualitas,' ujar dr Purbo Djojokusumo, juri. Bahkan kualitasnya hampir sama sehingga ketiga juri kewalahan menentukan yang terbaik. Penjurian pun berlangsung sangat ketat. Awalnya masing-masing juri memilih 20 kandidat di setiap kelas. Hasilnya didiskusikan untuk mendapat 10 kandidat. Untuk sampai ke tahap itu juri sampai 3 kali bolak-balik ke arena kontes. 'Lebih mudah menilai daripada memilih 10 besar,' kata Syah Angkasa, juri.

Setelah menilai selama 3 jam akhirnya juri sepakat memutuskan para juara. Pemenang 1 dan 2 pada kelas remaja jatuh pada hot lady dan sexy pink milik Rocky Suryanto di Jakarta Barat. Sementara juara ke-3 diraih sexy lia koleksi Paulus di Jakarta Barat. Hot lady pantas jadi jawara. Sosok tanaman kompak dan sehat. Daun yang awalnya kecil terus membesar. Pada kategori tunggal, legacy milik William asal Jakarta tampil sebagai jawara. Sosok kompak dengan tangkai daun pendek, sehat, dan corak mutasi konsisten jadi kekuatannya. Sementara di kategori majemuk diraih oleh widuri milik Krismanto di Tangerang.

Sansevieria dan anthurium

Trubus Agro Expo 2008 di Parkir Timur Senayan juga menyelenggarakan kontes sansevieria bekerja sama dengan Komunitas Pencinta Sansevieria Indonesia (KPSI). Tak mau kalah dengan aglaonema, kontes lidah mertua pun berlangsung semarak. Buktinya diikuti 108 peserta asal Jakarta, Tangerang, Yogyakarta, dan Temanggung.

Kontes terbagi dalam 5 kategori: daun bulat, daun pipih, unik, variegata, dan trifasciata. Di arena itu, Tangerang Sansevieria Club (TSC) sukses meraih juara pertama di 2 kelas sekaligus: daun pipih dan variegata. Di kelas lain pemain asal Jakarta dan Jawa Tengah buktikan yang terbaik. Sebut saja kategori daun bulat yang diraih sansevieria hibrid koleksi nurseri Bloomfield, Jakarta. Sedangkan jawara kelas trifasciata diperoleh sansevieria milik Soejatno Soebekti asal Temanggung.

Sepekan berselang, Trubus yang bekerja sama dengan Petani, Pedagang, Pecinta, dan Pemerhati Anthurium Indonesia (P4IA) menggelar kontes anthurium di Senayan. Sebelumnya, 26 Oktober 2008, kontes serupa diselenggarakan di Taman Wisata Wiladatika, Cibubur. Pada ajang itu tak hanya laceleave yang beradu molek, tapi juga puring. Total jenderal ada 67 peserta anthurium dan puring yang berlaga.

Anthurium terbagi dalam 4 kelas: jenmanii prospek, madya, dan utama, serta open nonjenmanii. Di kategori nonjenmanii, hookeri variegata koleksi Lius di Cianjur jadi yang terbaik. Maklum, tanaman sangat istimewa. 'Hookeri variegata yang daun tebal, mulus, dan tanpa cacat seperti itu jarang,' kata Eko Wiwis, juri dari Salatiga.

Kota lain

Kontes tanaman hias tak hanya berlangsung di Jakarta, tapi juga di Padang, Lampung, Yogyakarta, dan Tangerang. Di ibukota Provinsi Sumatera Barat kontes digelar di halaman depan kantor gubernur pada 2 November 2008. 'Ini merupakan kontes rutin yang diselenggarakan Dinas Pertanian Sumatera Barat dan Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI),' ujar Dra Hj Wiwi Mairawita Marlis, MSi, istri wakil gubernur sekaligus ketua PAI Sumatera Barat. Kali ini merupakan kontes tanaman hias ke-2.

Pada ajang itu ada 7 kategori tanaman hias dilombakan: anggrek spesies, anggrek hibrida, aglaonema tunggal, aglaonema majemuk, anthurium jenmanii, anthurium nonjenmanii, dan philodendron. Kompetisi diikuti oleh 77 peserta. Nun di Lampung, kontes tanaman hias dalam rangka memperingati Hari Listrik Nasional ke-63 yang terbagi dalam 6 kategori diikuti oleh 65 peserta.

Di Sleman, Yogyakarta, kontes puring terbagi dalam 2 kelas: tinggi lebih dari 50 cm dan kurang dari 50 cm. Kontes yang digelar untuk memperebutkan trofi Bupati Sleman itu diikuti 82 peserta yang tak hanya berasal dari Yogyakarta, tapi juga Wonosobo, Solo, Klaten, Sragen, Muntilan, dan Borobudur. Selain kontes, acara yang bertempat di Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Sleman itu juga diramaikan oleh parade puring yang diikuti 25 peserta. Pemenang parade puring adalah osqar milik Winarto asal Solo.

Di Tangerang kontes selama 6 hari berturut-turut diikuti sekitar 250 peserta. Dimulai dari kelas puring, adenium, sansevieria, aglaonema, anthurium nonjenmanii, dan anthurium jenmanii. Pada kontes Flora Banten Expo 2008 di Cikokol, Tangerang, itu Angel meraih juara umum. Wanita asal Cianjur itu pun berhak membawa pulang hadiah Daihatsu Xenia lantaran koleksinya meraih juara pertama di 4 kelas anthurium: madya jenmanii, utama jenamnii, madya gelombang cinta, dan utama gelombang cinta.
Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Destika Cahyana, Imam Wiguna, dan Nesia Artdiyasa)

source: www.trubus-online.co.id/

Selanjutnya Klik......

Selasa, November 25, 2008

Cara Berbinis Tanaman Hias

Ternyata jadi buser atau hunter bisa jadi pilihan. Modal hanya handphone yang bisa MMS. Berikut ini beberapa model bisnis yang bisa Anda pilih sesuai dengan kondisi keuangan, kesehatan, dan cita-cita pribadi sejak kecil.

Sewa dan Buka Gerai Tanaman Hias.Ini cara paling konvensional.
Ini cara paling konvensional.Menjual tanaman hias dengan cara menyewa lapak di tempat terbuka.

Kalau Anda punya nyali dan mau sedikit nekad, bisa menggunakan lahan kosong milik pengembang yang tidak difungsikan atau lahan kosong milik siapa saja. Cuma konsekuensinya, Anda harus siap-siap dikejar petugas Trantib dan berurusan dengan para preman. Jelas, cara ini tidak dianjurkan. Yang paling baik, sewa saja secara resmi lapak-lapak di sentra-sentra tanaman hias yang juga resmi.

Di Jabodetabek misalnya ada di Ragunan; Flona Alam Sutera di Serpong Tangerang, dan Pusat Tanaman Hias BSD City di Kompleks Taman Tekno Tangerang.Sistem sewa biasanya dihitung per bulan atau per tahun di luar biaya kebersihan dan keamanan. Hitungan untuk tahun 2007, rata-rata per tahun 5—10 juta rupiah untuk setiap kapling. Kalau lahan sudah habis di tempat resmi tadi, Anda bisa ‘membeli hak pakai’ pada penyewa lama secara ‘bisik-bisik’. Dengan catatan, penyewa lama sudah bosan. Harga beli ‘hak pakai’ juga bervariasi, antara Rp20—100 juta per kapling.

Menyewa lapak di sentra penjualan tanaman hias resmi, selain tidak dikejar-kejar petugas Trantib, Anda juga tidak perlu repot-repot promosi. Karena sentra tanaman itu sendiri sudah mampu mengumpulkan pengunjung. Paling tidak, kalau Anda belum punya pelanggan, kalau nasib baik, ada pelanggan tetangga ‘kesasar’ masuk ke gerai Anda. Yang perlu Anda lakukan tinggal memajang tanaman-tanaman yang bagus, mempekerjakan karyawan yang ramah, dan membuat gerai Anda menyenangkan. Sewa Stan dan Buka Pameran
Pameran tanaman hias merupakan ajang promosi dan ajang penjualan yang bagus. Pihak penyelenggara melakukan banyak promosi untuk mengudang konsumen datang. Kalau Anda sewa stan dan buka pameran di situ, bukan mustahil gerai Anda dikunjungi orang, dan tanaman Anda dibeli orang.

Sekadar informasi, di Jabodetabek, sewa stan pameran saat ini berkisar Rp750.000 sampai Rp3.000.000, untuk gerai ukuran 3 x 5 meter, selama pameran berlangsung antara 7 sampai 10 hari. Di Jakarta ada beberapa event pameran tanaman yang berskala nasional, seperti Pameran Flora Fauna di Lapangan Banteng setiap bulan Agustus, atau pameran-pameran tanaman hias yang diselenggarakan Majalah Trubus. Namun, banyak juga pameran-pameran serupa yang diselenggarakan oleh Pemda, Supermal, atau event-event organizer di banyak tempat. Yang perlu Anda lakukan adalah selain menyiapkan tanaman hias andalan juga mencetak kartu nama untuk disebar. Jangan lupa cetak nomor telepon Anda jelas-jelas agar setelah pameran usai, tanaman Anda tetap dibeli orang.

Open House

Open house atau buka nurseri di rumah sendiri paling enak. Anda bisa setiap hari menongkrongi, memantau, dan menerima pembeli. Kalau bisnis Anda laku, Anda boleh bilang pada keluarga di rumah yang ikut menyaksikan, bahwa jadi pedagang tanaman hias tidak ‘hina’. Cara ini gampang dilakukan bila Anda punya pekarangan atau lahan yang memenuhi persyaratan. Namun bagi yang tidak punya lahan, jangan berkecil hati, bisa bikin dak di atas rumah. Enaknya, para tetangga yang lewat dan melihat, atau sanak keluarga yang kebetulan mampir bisa menjadi pengiklan bisnis Anda. Syukur-syukur mereka juga ikut tergerak untuk membelinya, bukan malah memintanya secara gratis.

Kalau yang terakhir ini terjadi, jangan sekali-kali Anda mengabulkannya. Lebih baik Anda menjual kepada mereka dengan harga miring atau rugi, daripada memberinya cuma-cuma. Jangan sampai yang kemudian menjadi berita dari mulut ke mulut adalah bahwa tempat Anda adalah tempat yang tepat untuk mendapatkan tanaman secara gratis. Dengan menjual murah atau rugi, sedikitnya, yang akan menjadi berita adalah tempat Anda menjual tanaman dengan harga murah.Keuntungan lain dengan memilih cara ini, Anda tentu saja tidak perlu buang biaya untuk menyewa lapak. Selain itu, jika sedang tidak ada pembeli, Anda bisa menikmati keindahannya setiap hari. Kerugiannya, istri, mertua, anak atau cucu Anda bisa terganggu ruang geraknya. Anda juga harus mulai bersiap-siap memiliki rumah seperti hutan belantara. Cara ini juga bisa dilakukan secara luwes. Misalnya, kalau Anda masih kerja, atau punya usaha lain, Anda bisa melakukan open house khusus pada hari Sabtu dan Minggu.

Menitipkan Tanaman

Tanaman bisa Anda titipkan ke teman yang menjual tanaman atau ke penjual tanaman yang Anda kenal. Ini cara paling aman, terutama jika Anda tergolong hobiis pembosan. Jadi kalau ada tanaman yang Anda anggap sudah menjemukan, Anda bisa meminta mereka untuk memasarkannya. Cara titip teman juga pas jika Anda tergolong pemalu, atau masih malu-malu menjadi pedagang tanaman hias. Keuntungannya, rumah Anda nyaman, dan Anda tak perlu mengeluarkan biaya sewa lapak. Jeleknya, ada kemungkinan tanaman Anda tersia-sia di tempat ‘penitipan’. Bahkan bukan tidak mungkin, orang-orang yang Anda titipi malah ‘mencuri’ tanaman Anda dengan memotong bonggol atau akarnya tanpa Anda ketahui.

Menyewa Tukang Gerobak Keliling

Ini cara paling jitu kalau rumah Anda sempit, dan Anda tidak punya kebun sendiri. Bikin gerobak dorong, dan panggil para pengangguran yang tinggal di sekitar Anda untuk diajak menjadi pedagang keliling tanaman hias. Minta kepada mereka untuk masuk ke perumahan-perumahan menjajakan tanaman Anda. Dewasa ini banyak orang senang tanaman hias tapi terlalu sibuk untuk mendatangi nurseri. Mereka adalah pasar potensial Anda.Enaknya, setiap hari Anda menerima setoran dari para penarik gerobak dorong. Kalau setiap gerobak menyetor Anda uang Rp1 juta saja sehari, kita sudah bisa bayangkan, betapa indahnya bisnis tanaman hias. Dari sana sekaligus Anda juga bisa mendapat info tanaman yang disukai dan tanaman yang tidak disukai. Dengan demikian, Anda bisa langsung belanja tanaman yang disukai konsumen di tempat penjualan grosir tanaman hias. Risikonya, kalau penarik gerobak kabur beserta gerobaknya Anda bisa gigit jari. Namun, Anda bisa cegah terlebih dulu dengan menyimpan fotokopi KTP-nya. Kalau ada apa-apa, tinggal lapor polisi.

Menjadi Hunter atau Buser

Kalau Anda ingin dapat untung dari berjualan tanaman hias tapi modal cekak atau tidak punya modal sama sekali, cara ini bisa dilakukan, yaitu dengan menjadi seorang hunter (pemburu) atau buser (buru sergap) tanaman hias.Pada dasarnya hunter dan buser adalah makelar atau istilah kerennya brooker. Modalnya, informasi dan sebuah handphone yang bisa kirim foto melalui Multimedia Messaging Service (MMS). Dengan model bisnis ini, Anda bahkan tidak harus punya tanaman sendiri.

Membuka Kebun Khusus Sendiri di Daerah Pinggiran

Cara ini mungkin termasuk cara paling mahal. Karena kita harus menyewa atau memiliki lahan luas di daerah pinggiran yang harga atau sewa tanahnya masih murah. Namun, percayalah, meski di dearah pinggiran sekali pun, kalau koleksi tanaman hias Anda bagus, orang akan tetap memburunya. Bak syair lagu “Ke gunung kan kudaki, ke laut kan kuseberangi….”Keuntungannya, Anda bisa memilih konsumen yang datang ke kebun. Kalau Anda sedang capek Anda bisa mengatakan nurseri Anda tutup, Anda sedang di luar kota atau alasan-alasan lainnya. Bahkan Anda bisa menyeleksi pembeli Anda. Keuntungan lainnya, kalau orang sudah jauh-jauh datang ke tempat Anda, sudah pasti mereka juga akan berbelanja cukup banyak.

Membuka Kebun, Sekaligus Membuka Kedai Kopi atau Galeri

Kalau kondisi keuangan memungkinkan, dan lokasi mendukung, selain membuka kebun dan menjual tanaman, Anda bisa menambah fasilitas lain seperti kafe, kedai kopi, atau galeri lukisan. Jadi, selain berburu tanaman, pengunjung bisa menikmati kopi atau membeli lukisan.Di Bandung ada All About Strawberry. Bapak dan ibu membeli buah atau tanaman stroberi, sementara anak-anak bisa minum jus stroberi. Di Baturaden, Purwokerto ada Puspa Tiara Nurseri yang menyediakan bakso dan kopi. Istri membeli tanaman, anak-anak makan bakso dan suami bisa minum kopi. Semua happy!

Menjajakan dengan Sepeda Motor atau Mobil

Cara bisnis seperti ini boleh dicoba kalau Anda tidak punya lapak. Anda tinggal ambil dagangan di tempat kulakan, lalu menjajakan secara keliling dengan sepeda motor atau mobil. Sasarannya, pedagang-pedagang tanaman hias kaki lima atau masuk ke pedagang-pedagang yang sedang buka stan pameran yang karena terlalu sibuk tidak punya waktu untuk kulakan.. Kita bisa menjual per lima atau per sepuluh pot. Tak usah untung banyak, asal penjualan lancar dan pembayaran bagus, sudah aduhai. Modalnya, cuma tahu tempat kulakan, tahu lokasi sasaran kita berada, dan punya sepeda motor atau mobil yang bisa dipakai. Kalau Anda bisa ngutang dulu di tempat kulakan, lebih asoy. Jadi Anda tak perlu mengeluarkan modal. Tentu saja, Anda harus langsung membayarnya begitu Anda menerima uang.

Membuat Website

Kalau mau memasarkan tanaman Anda ke pasar lebih luas, Anda bisa membuat website. Di situ Anda bisa memasang foto-foto tanaman, dilengkapi deksripsi dan harganya.Membuat website tidak mahal. Anda cuma harus membayar seorang desainer web, untuk membuat website. Lalu menghubungi dan membayar pihak web hosting, agar website Anda bisa disiarkan ke seluruh dunia. Keuntungan lain jika mempunyai website, Anda malah bisa jadi brooker. Tanaman milik teman yang hendak dijual bisa Anda foto, lalu gambarnya dipasang di website. Jika laku, Anda akan mendapatkan komisi.

Pasang Iklan Baris di Internet

Punya tanaman, tapi tidak punya gerai, atau malu mejeng di pameran, tidak bisa bikin gerobak boro-boro punya website? Gampang saja. Pasang iklan baris di Internet. Dewasa ini banyak portal-portal tanaman hias yang bersedia memasangkan iklan baris Anda secara gratis. Contohnya, duniaflora.com . Syaratnya cuma satu: Anda tidak gaptek Internet. Kalau cuma tidak punya Internet, gampang, datang saja ke Warnet atau bawa laptop dan bayar vouncher sewa hot spot yang banyak dimiliki supermal atau kafe.

Buka Supermarket

Buka supermarket butuh lahan dan bangunan yang memadai. Di situ orang bisa berbelanja tanaman hias secara swalayan. Cuma mungkin, Anda tidak cukup bayar tenaga untuk bagian kasir, tapi perlu juga sewa para detektif untuk mengatasi para pengutil tanaman. Maklum, tukang kutil biasanya juga mencari peluang di supermarket Anda.

Jadi importir.

Anda berangkat ke Thailand, dan membawa pulang tanaman yang sedang digemari di tanah air. Kelihatannya keren. Syaratnya, paling sedikit Anda punya paspor, surat izin impor dan uang memadai... Menurut orang yang suka ulang-alik ke sana, sedikitnya kita harus membawa Rp. 500 juta, supaya kita untung. Kalau bawa uang dibawah itu, bisa saja, tapi Anda tekor. Anda juga harus siap berurusan dengan masalah bea cukai setelah barang Anda tiba di bandara. Repotnya, tidak ada tarip resmi, semua masih dihitung suka-suka.Saat buku ini ditulis, beaya seperti ini, untuk sekali masuk barang bisa mencapai antara Rp. 10 juta sampai Rp. 25 juta. Tentu saja beaya sebesar itu harus Anda masukkan sebagai komponen harga jual. Salah-salah berbicara dengan pihak berwenang, bukannya Anda dapat untung, barang malah disita, untuk dimusnahkan. Anda pun gigit jari. Kalau Anda tergolong tidak gentar atau suka naik pesawat terbang dan sedikit punya nyali, model bisnis ini bisa dicoba.

(Dikutip dari buku, “JURUS SUKSES BISNIS TANAMAN HIAS”, karangan Kurniawan Junaedhie, PT Agro Media Pustaka, Jakarta 2007)

Source: www.duniaflora.com

Selanjutnya Klik......

Jumat, Oktober 24, 2008

Situasi Pasar Dunia Flora pertengahan 2008-2009

Seperti yang sudah diprediksikan pada akhir tahun 2007, seiring rekayasa yang dilakukan makelar dan media tanaman hias tertentu ternyata tidak ada yang bisa merubah situasi yang terlanjur terpuruk. Terbukti meskipun ada upaya sporadis dilakukan beberapa pemain untuk menggoyang pasar, tampaknya pasar dan penghobbi flora di tanah air sudah capek dan kehilangan tenaga mengikuti goyangan ngebor pendatang baru yang digoreng. Seperti fenomena goyangan panas di panggung dangdut, yang akhirnya berlalu seiring waktu. Terbukti beberapa tanaman yang digoyang para makelar, seluruh penghobbi hanya menonton pasif. Beberapa tanaman yang berupaya naik mengalami nasib serupa.

Hal yang kontradiksi justru terjadi di aglo, begitu sempat naik, harga malah terkoreksi turun sangat tajam. Berbeda dengan pakem yang biasa terjadi padafenomena sebelumnya. Disinyalir hal ini diakibatkan pemain aglo yang memiliki stok menggelontorkan stoknya, karena kesempatan once in a life time ini, disamping faktor mental yang tidak siap naik secepat itu (takut keburu turun). Sehingga membuat nanar penghobbi dan pemain, karena tidak mengira hal seperti ini akan terjadi (padahal sudah sempat diwanti-wanti sebelumnya).

Setelah Fase Goreng Menggoreng dan upaya tarik menarik kepentingan antara Importir sebagai perwakilan tanaman import dan pemain tanaman hias lokal, sekarang dunia flora tanah air memasuki fase cooling down. Seperti segelas kopi yang selesai diaduk, semuanya mengendap dan kembali menempati posisinya masing-masing.

Penghobbi Adenium yang terlanjur kecanduan moleknya bonggol, penghobbi aglaonema yang tersapu liukan si ratu, penghobbi bonsai yang terpesona kewibawaan sosok sikerdil, maupun penghobbi sanse, kaktus, euphorbia yang tertusuk hatinya oleh duri sitajam, anggrek yag selalu mistis menggoda, ataupun penggemar anthurium yang terpesona urat si raja tidak bisa kelain hati. Semuanya kembali ke esensi Hobby, merawat si tanaman sebaik-baiknya untuk menenteramkan jiwa dan menghilangkan stress.

Hal ini akan berdampak baik pada perkembangan di anah air, dimana masing-masing kelompok hobby akan tetap menekuni bidangnya masing-masing. Disamping harga yang pada umumnya merupakan harga terbaik, mengingat harga sekarang hampir sama dengan harga di thailand. Sehingga untuk Penghobbi dan kolektor yang ingin melengkapi koleksi ataupun memenuhi hasratnya yang lama dipendam, sekarang menjadi saat terbaik untuk berburu. Disamping dari segi faktor stok yang melimpah, sehinga memudahkan untuk memilih barang koleksi pada harga terbaik.

Jika situasi ini terus terjaga, dunia flora kita akan tetap berwarna-warni akan keanekaragaman tanaman hias yang ada dan dikembangkan. Diharapkan kedepan upaya-upaya untuk menjegal perkembangan salah satu tanaman hias yang sedang populer tidak lagi dilakukan, karena hal semacam itu membuat dunia tanaman hias dan pasar yang tengah bergerak laju, distop begitu saja, limbung dan akhirnya jatuh terjerembap. yang justru berakibat menyeluruh dan jatuhnya image dunia tanaman hias tanah air.

Apa yang kami lakukan disini adalah dalam upaya menghentikan sekelompok makelar dan media yang berupaya menjadikan dunia tanaman hias sebagai jajahannya. yang bertentangan dengan apa yang kami yakini bahwa tanman hias itu adalah sahabat dan teman kita. Biarkan semua itu berjalan secara alami, karena pada akhirnya semua memiliki fase alamiah untuk tumbuh, berkembang dan menurun kalau tidak mampu memaintenance pasar ataupun memunculkan inovasi. Penghobbi dan kolektor hanya memerlukan informasi dan panduan memulai menikmati keindahan tanaman hias tertentu sebanyak-banyaknya. tidak perlu tahu hitung2an angka keuntungan yang selama ini justru menyesatkan.

Tidak perlu ada orang-orang yang merasa berkewajiban moral dan menjadi pihak yang berusaha mengintervensi pasar seolah-olah menjadi tangan tuhan. tetapi disisi lain melakukan hal yang sama. Semua Orang merupakan Individu unik dan berbeda, baik sifat, keinginan, kebutuhan, preferensi, keuangan, kesempatan, lingkungan , dll. jadi semua orang akan memulai dari tanaman yang berbeda, dan kecintaan yang berbeda-beda.
source: www.duniaflora.com

Selanjutnya Klik......

PR - KU

S E L E S A I .... BEBAS EUY... ehhhh ada lagi yang kasih PR tapi aku lupa siapa yaaaa yang kasih PR... waktu itu kerjaan ku overload jadi aku minta waktu nah saat ini sedikit lenggang mohon

PENTERJEMAHKU