Selasa, November 18, 2008

Manajemen Pengendalian Cendawan dan Bakteri Patogen pada Tanaman


Penyakit tanaman dapat berkembang dan menyebar bila kondisi seperti suhu dan kelembaban memenuhi syarat untuk berkembang, selain itu kondisi tanaman dan teknis budidaya juga berperan.

Penyebab penyakit yang sering menyerang tanaman yaitu bakteri dan cendawan. Bakteri dan cendawan cenderung berkembang pada lingkungan yang mempunyai kelembaban tinggi (>80%), dimana bakteri berkembang pada suhu tinggi (>28oC), sedangkan cendawan pada suhu rendah (<22 -25oC).

Tanaman yang mengalami stres rentan terhadap serangan penyakit, stres yang dimaksud dapat dikarenakan (1) penggantian media baru dan (2) penggenangan air di daerah perakaran dalam jangka waktu lama. Faktor lainnya adalah salah pemberian pupuk (konsentrasi pupuk yang kurang/lebih dan macam pupuk yang salah).

Pengaturan jarak tanam ataupun jarak antar pot tanaman di dalam membudidayakan tanaman juga mempengaruhi perkembangan dan penyebaran penyakit. Semakin rapat jarak antar tanaman memberikan resiko tinggi dalam penyebaran penyakit tersebut. Demikian pula dengan media tanam yang salah menentukan komposisi dan perbandingannya. Bila media tanam terlalu lembab dan kuat memegang air maka akan membuat akar tanaman membusuk yang dapat menjadi awal masuknya penyakit.

Solusi selain mencegah dengan menggunakan fungisida dan bakterisida adalah dengan cara kontrol lingkungan dengan membuat lingkungan sekitar tanaman mudah teraliri udara, mengatur penyiraman air, pemberian pupuk yang tepat (konsentrasi,macam pupuk), mengatur jarak antar tanaman dan membuat media tanam tepat komposisi dan perbandingan.

(Yudha Hartanto, MSi., diolah dari berbagai sumber)
source : www.tokopupuk.com

Selanjutnya Klik......

Senin, November 17, 2008

INFORMASI: Cara Murah Mengusir Nyamuk












Belakangan ini penyakit Demam berdarah atau Dengue adalah penyakit yang diketahui paling mematikan dan sulit dicegah apalagi pada saat musim hujan. DBD adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan virus dengue­terutama menyerang anak-anak. Tanda-tandanya antara lain demam tinggi mendadak, dengan manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan shok dan kematian.

Banyak cara dilakukan untuk mencegah dan mengobatinya. Salah satunya dengan menggunakan bahan yang bisa digunakan untuk melumpuhkan sumbernya, yaitu Nyamuk. Bukti galaknya promosi dan penyuluhan untuk mencegah penyakit ini adalah banyaknya obat anti nyamuk yang beredar di pasaran. Pemberantasan nyamuk biasanya dengan menggunakan insektisida sintesis sebagai racun serangga, entah itu obat nyamuk semprot, obat nyamuk bakar, maupun obat antinyamuk yang dioleskan, yang tentu saja mengandung senyawa kimia.

Hampir semua obat anti nyamuk tersebut bersal dari tumbuhan karena pola hidup orangsaat ini adalah back to nature, seperti: Geranium, Lavender, Serai wangi, Selasih dan banyak sekali jenis tumbuhan yang memiliki kandungan pengusir nyamuk. Namun, dari semua jenis tumbuhan tersebut tidak ada satupun yang bisa digunakan secara langsung, yakni masih membutuhkan pengolahan sebelumnya. Proses pengolahan ini membutuhkan biaya yang cukup mahal sehingga harga obat ini pun relatif mahal.

Salah satu tanaman yang bisa digunakan untuk mengusir nyamuk dan pemanfaatannya mudah adalah tanaman zodia (Evodiaa suaveolens) yang termasuk dalam famili Rutaceae. Tanaman perdu ini berasal dari keluarga Rutacea. Tinggi tanaman 0,3 – 2 m dan panjang daun dewasa 20 – 30 cm. Bentuk zodia cukup menarik sehingga banyak digunakan sebagai tanaman hias. Zodia berasal dari Papua, namun saat ini sudah banyak tumbuh di Pulau Jawa. Tanaman ini tumbuh baik di ketinggian 400 – 1.000 m dpl.

Tanaman ini bisa memiliki tinggi mencapai 200 cm jika dibiarkan tumbuh bebas di alam. Daunnya berwarna hijau agak kekuningan, pipih panjang tapi lentur. Tanaman ini berfungsi ganda, selain sebagai tanaman hias yang dapat menyejukkan suasana rumah ketika dilihat, juga berfungsi sebagai anti nyamuk yang handal. Tanaman ini mengandung zat evodiamine dan rutaecarpine sehingga menghasilkan aroma yang cukup tajam dan tidak disukai serangga. Menurut Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), minyak yang disuling dari daun zodia mengandung linalool 46 persen dan apinene 13,26 persen. Linalool berfungsi sebagai pengusir nyamuk.

Daun zodiac mampu menghalau nyamuk selama 6 jam, dengan daya halau (daya proteksi) sebesar lebih dari 70 persen. Selain efektif mengusir nyamuk, belakangan ini para ilmuwan menemukan khasiat lain dari zodia, misalnya penyembuh sakit kepala, disentri, dan pembunuh sel kanker. Bunganya juga dapat dijadikan obat gosok untuk mengobati masuk angin. Di samping itu, daun zodia terasa pahit, bisa digunakan sebagai obat tradisional, antara lain untuk menambah stamina tubuh, sementara rebusan kulit batangnya bermanfaat sebagai pereda demam malaria.

Zodia mengeluarkan aroma bila daun-daunnya digosokkan. Tanpa digosokkanpun tanaman ini akan menebarkan aroma wangi yang bisa mengusir nyamuk dari dalam ruangan. Dengan kata lain, tanaman ini merupakan tanaman hidup pengusir nyamuk yang dalam kondisi hidup mampu menghalau nyamuk. Artinya tanaman ini tidak perlu diolah terlebih dulu. Daunnya juga bisa mengobati kulit yang bentol karena gigitan nyamuk. Meskipun harga bibitnya mahal (antara Rp 5000 hingga Rp 200.000 per pohon sesuai dengan tinggi dan kesuburan tanaman), tapi dari segi manfaatnya yang sama, tanaman ini masih bisa bersaing dengan tanaman lain yang menjadi sumber bahan utama dalam pembuatan obat anti nyamuk yang ada selama ini.

Selain itu, budidaya dari tanaman ini cukup mudah bila dibandingkan dengan tanaman sejenisnya sehingga tidak perlu takut akan gagal. Ini cocok sekali dengan orang yang sibuk dan tidak memiliki banyak waktu untuk merawat tanaman atau bahkan orang yang memang tidak bisa merawat tanaman. Bisa diperbanyak melalui biji dan stek ranting. Tanaman yang sudah berbunga dan berbiji, maka bijinya akan jatuh dan tumbuh di sekitar tanaman. Penanaman zodia dari biji hingga berkecambah memerlukan waktu 4 minggu. Penanaman bisa menggunakan sekam bakar sebagai medianya. biji tingal ditaburkan atau disemai kemudian diletakkan di tempat teduh. Dari habitat aslinya biji zodia menyebar dengan cara pemecahan sendiri. Sehingga biji bisa jatuh jauh dari induknya.

Perawatannya juga mudah, cuma perlu dipupuk satu bulan sekali, jarang dihinggapi hama. Dua hari sekali, zodia perlu dikeluarkan dari ruangan selama dua hingga tiga jam agar terkena cahaya matahari. Biarkan terkena sinar matahari. Hanya, fase pertumbuhan membutuhkan perhatian tersendiri. Bila langsung kena sinar matahari, bisa-bisa malah mati. Sebaliknya, bila kurang sinar matahari justru pertumbuhannya tidak sehat.

Tanaman ini akan tumbuh subur bila dikembangkan di daerah yang cukup dingin. Biasanya, tanaman ini ditanam dalam pot, dan digunakan sebagai tanaman dalam ruangan (indoor plant). Namun, baik juga bisa langsung ditanam di halaman rumah. Penyimpanan tanaman juga sering diletakkan di sekitar tempat angin masuk ke dalam ruangan, nyamuk yang hendak masukpun terhalau. Bahkan, bisa memberikan kesejukan tersendiri. Di daerah perumahan, tanaman yang habitusnya perdu ini dapat digunakan sebagai tanaman penghijau sekaligus tanaman potensial di lingkungan rumah. Tingkat efektifitasnya akan terasa apabila sirkulasi udara di sekeliling tanaman tersebut baik. Karena aroma yang dikeluarkan oleh tanaman tersebut akan disebarkan oleh angin ke sekeliling lingkungan sehingga dapat mencegah pertumbuhan nyamuk di sekitar perumahan.

Cara pemanfaatannya bisa dengan langsung menggosokkan atau mengoleskan daun yang sudah digosok-gosok ke permukaan kulit, atau hanya dengan sekedar meletakkannya di ruangan agar ruangan tersebut tidak dihuni nyamuk. Jika tanaman ini tertiup angina, maka daun-daunnya akan saling bergesekan sehingga menimbulkan bau harum. Satu yang perlu diperhatikan, jika ruangan terlalu sempit dengan sirkulasi udara yang kurang baik, aroma dari tanaman ini juga bisa menyebabkan orang mabuk atau pusing karena aromanya yang terlalu menyengat. Meskipun baunya lumayan keras, namun tanaman ini lebih sehat bila dibandingkan dengan obat nyamuk bakar atau semprot buatan pabrik karena aroma dari tanaman ini tidak membahayakan pernafasan.

Penggalakan pemanfaatan tanaman ini perlu dilakukan karena terbukti ramah lingkungan dan aman. Promosi ini bisa dilakukan dari mulut ke mulut di lingkungan sekitar kita, namun akan lebih efektif jika diberikan penyuluhan oleh pemerintah daerah untuk melakukan budidaya atau setidaknya setiap rumah punya sehingga masyarakat bisa terhindar dari penyakit DBD yang sangat mematikan.

*Oleh: Mo Awwanah*
*Penulis adalah Mahasiswi Biologi/2006
Universitas Negeri Malang
source: moaw745.wordpress.com


Selanjutnya Klik......

KULTUR JARINGAN AGLAONEMA


KULTUR JARINGAN AGLAONEMA: Teknik Sterilisasi Memegang Kendali

Sejak lama aglaonema telah dicoba diperbanyak lewat kultur jaringan. Namun baru kali ini menunjukkan hasil. ADALAH MONFORY NUSANTARA YANG BERHASIL. MELALUI METODE ORGANOGENIS, menggunakan batang bermata tunas. Total ada sekitar 15 hibrida aglaonema yang menunjukkan performa bagus di laboratorium dan nursery milik Monfory di Bogor, Jawa Barat. "Sejak lebih kurang dua tahun lalu kami

melakukan percobaan pada 30 hibrida dan belakangan kami tambah 12 hibrida," ungkap Suzy Ratnawati Madjid, Plant Manajer Monfory Nusantara. Hasil kuljar sudah masuk ke divisi nursery untuk diadaptasi dan dibesarkan sampai siap dipasarkan. Antara lain, Lady valentine, Cochin tembaga, Red fire, Lipstik flamingo, dan Madonna. Silangan Gregory Hambali macam Madame Suroyo, Adelia, dan Siti Nurbaya juga sudah mulai diproduksi. "Sekarang kami sudah bisa menghasilkan total 2.000 anakan silangan aglaonema perbulan. Tetapi angka tersebut akan terns meningkat," lanjut Suzy.
I
SIKLUS LEBIH PANJANG
Teknik tissue culture pada tanaman berjuluk ratu daun ini serupa dengan prosedur kuljar (kultur jaringan) tanaman hias lain. Namun aglaonema punya siklus kuljar yang lebih lama. "Kalau caladium dan alokasia hanya butuh waktu 4 minggu sampai eksplan tumbuh dan siap dipotong kembali. Tetapi aglaonema butuh waktu sampai 5-6 minggu," terang Suzy. Tahap ini biasa disebut subkultur melalui stek mikro.

Namun persoalan utama dalam proses kuljar aglaonema adalah sterilisasi eksplan. Kalau eksplan terkontaminasi, tak bakal bisa tumbuh. Setup tanaman menyimpan bakteri endogen yang bisa jadi berbeda. "Kami melakukan banyak trial £t error sampai menemukan teknik sterilisasi khusus dan berhasil. Bahan untuk sterilisasi persis seperti yang kami pakai untuk tanaman hias lain," lanjut Susy.

Setelah proses sterilisasi berhasil, tinggal mencoba-coba ramuan media dan hormon paling pas supaya pertumbuhannya maksimal. Monfory menggunakan media kuljar padat berbahan dasar media MS.

"Tapi dengan beberapa modifikasi dan penambahan ramuan hormon tertentu. Teknik pemotongan eksplan juga berbeda," lanjutnya.

KULJAR HEMAT
Kultur jaringan skala rumahan untuk tanaman bernama lokal Sri rejeki ini sudah dicoba. Seperti

yang dilakukan oleh Novi Syatria di Klender, Jakarta Timur. Namun belum seratus persen berhasil, permasalahan sterilisasi masih jadi kendala. "Eksplan sudah kelihatan tumbuh tetapi masih terkontaminasi bakteri. Saya sedang mencoba dengan tambahan formula anti bakteri yang hasilnya bagus pada tanaman lain," ungkap down Universitas Bengkulu.

Novi melakukan sterilisasi eksplan sebelum ditanam. Potongan batang bermata tunas dicuci dengan air mengalir dan deterjen. Kemudian di-shaker dalam larutan fungisida dan dibilas dengan air stern. Dilanjutkan direndam larutan fungisida, dibilas air stern sampai bersih.

Ketiga langkah itu dilakukan masingmasing 30 menu Terakhir direndam dalam larutan alkohol 70% sambil digoyang dan dibilas 5 kali dengan air. Proses kultur jaringan, menurut Novi, bisa dilakukan dalam skala rumah tangga. Bisa menggunakan
peralatan yang terjangkau. Semisal Laminar air flow, semacam kotak stern, bisa diganti dengan incase yang bisa dipesan pada tukang kaca. Autoclaf bisa diganti dengan panci presto, asalkan suhunya bisa melebihi 100 °C. Penggunaan mediaa padat tak perlu mesin shaker. Kalau menggunakan media beli jadi, tak perlu timbangan dan alat ukur. Perlengkapan botol juga bisa diganti. Namun perlu ruang sejuk untuk menyimpan kultur yang sudah diisolasi. Bagi pemula bisa memanfaatkan kamar ber-AC.
"Proses kerja dasar bisa dipelajari hanya dalam satu hari, selebihnya lewat praktik langsung," lanjut Novi yang acap memberikan pelatihan kuljar.

Nah, Anda pun bisa mencobanya. ~


TAHAPAN KULJAR
1. Media masak masuk botol, dimasukkan ke autoclaf selama 1 jam. Pastikan steril sampai 3 hari.
2. Alat yang hendak digunakan disterilisasi dulu dalam autoclaf.
3. Sterilisasi alat, kalau menggunakan laminar, letakkan dalam laminar tertutup dan lampu UV

menyala sejam.
4. Laminar dibuka, blower dan lampu nyala, semprot alkohol 70%.'
5. Bahan dan alat disemprot alkohol.
6. Memotong bahan eksplan dari induk yang sehat.
7. Sterilisasi dan pemotongan eksplan diluar dan di dalam alat kerja (laminar atau in case).
8. Eksplan ditanam, gunakan pinset yang telah dibakar api bunsan dan dicelup air steril. Mulut

botol juga dibakar api bunsan.
9. Botol diletakkan di ruangan steril bersuhu sejuk sampai siap dimultifikasi lewat jalan stek

mikro.

Silangan Lokal Menggembirakan
Kebanyakan aglaonema yang sukses dikembangbiakkan lewat semacam teknologi clone di Monfory adalah hibrida hash persilangan Thailand. Sementara aglaonema silangan Gregory Hambali di Bogor, belum optimal. "Barangkali dipengaruhi bahan silangan, silangan Thailand keturunan cochin punya rugs lebih panjang pertanda pertumbuhannya cepat. Berbeda dengan keturunan rotundum yang beruas pendek," ungkap Lewi Pohar Cuaca, manajer marketing Monfory Nusantara. "Kuljar menggunakan ramuan media dan formula yang sama, pertumbuhan aglaonema lokal masih belum secepat silangan Thailand," tambah Suzy. Diperlukan ramuan hormon khusus. Sampai saat ini,

Monfory telah membuat 28 ramuan media untuk menginisiasi 12 spesies tanaman.

TEKS: RUDI
FOTO: ROHEDI/RUDI

Discan dan diedit oleh Sabina dari majalah Flona Edisi 65/V Juli 2008
source : www.kebonkembang.com

Selanjutnya Klik......

Selasa, November 11, 2008

Aglaonema Abnormal yang Menarik


Pantas bila Tum-sapaan Satid Srimarksook-memiliki pride of sumatera berpenampilan nyeleneh dalam jumlah banyak. Pria kelahiran 35 tahun silam itu punya 100.000 indukan sehingga peluang mutasi terbuka lebar. 'Dari 1.000 tanaman paling hanya 1 yang mengalami mutasi,' ujar Sukasdi, pemulia aglaonema di Bogor. Nah, dengan asumsi itu, Tum bisa memperoleh sekitar 100 tanaman mutasi. Angka spektakuler untuk sebuah kelainan pemicu harga tinggi.

Harga sri rejeki abnormal yang langka itu memang luar biasa. Sebut saja balanthong mutasi berdaun 4 helai milik Anti Nursery yang terjual seharga Rp2,5-juta/pot. Pride of sumatera mutasi dihargai Rp250-ribu-Rp300-ribu per pot untuk tanaman berdaun 6-7 helai. Harga pride normal paling hanya Rp125-ribu.

Kultur jaringan

Sekitar 100 km dari kebun Satid Srimarksook, Trubus pun menemukan 'gudang' balanthong mutasi. Daun yang awalnya berwarna hijau dengan tulang dan jari-jari daun merah berubah jadi merah muda. Saat beralih rupa sang ratu bertambah cantik. Di antara 1.000 indukan yang ada di sana hanya segelintir yang abnormal.

Di nurseri lain ditemukan dynamic ruby dengan motif seperti lipstik. Warna hijau hanya terlihat menghiasi daun bagian pinggir. Lazimnya, corak menyerupai lady valentine, bercak hijau muncul di tengah daun berwarna merah muda itu. Perubahan rupa aglaonema milik Pichai Manichote itu muncul lantaran diperbanyak dengan kultur jaringan.

Menurut Sukasdi, teknik perbanyakan itu memang kerap memacu munculnya kelainan. 'Jadi, tergantung sel yang diambil,' katanya. Bila yang diambil sel hijau, maka yang muncul dominan hijau. Selain itu, mutasi juga dapat disebabkan oleh perbanyakan dengan cara vegetatif, yakni setek batang atau pemisahan anakan. Sel-sel yang sebelumnya dorman, terpicu bangun dan membentuk tunas yang mengalami penyimpangan. Jadi, 'Setiap titik tumbuh diaktifkan,' ujar Greg Hambali, penyilang di Bogor. Perubahan sosok bisa berupa warna, gurat daun, atau bentuk daun.

Pisah Anakan

Sebut saja snow white mutasi koleksi Prapanpong Tangpit. Daun aglaonema asal Florida yang awalnya berwarna putih dengan bercak hijau itu berubah jadi dominan putih. Itu karena At-begitu ia disapa-sering memperbanyak kerabat alokasia itu dengan cara memisahkan anakan. Bak mendapat durian runtuh, pria yang berdomisili di Khet Thawi Watana, Bangkok, itu memperoleh satu yang berpenampilan abnormal dari 3.000 indukan. Wajar bila ia masih enggan melepas anggota famili Araceae itu.

Nun di Serpong, Tangerang, Trubus juga menjumpai nina dan hot lady berpenampilan beda koleksi Handry Chuhairy. Nina yang semula berdaun hijau dengan tulang daun merah berubah warna jadi lebih cerah. Hijau kekuningan dengan merah muda yang sangat menonjol di tulang daun.

Sebaliknya dengan hot lady. Warna daun aglaonema silangan Greg Hambali itu berubah menjadi dominan hijau tua. Bercak merah nyaris tak ada sehingga penampilannya gelap. Pantas bila sri rejeki itu menyemat nama black hot lady.

'Semakin sering aglaonema diperbanyak dengan vegetatif, peluang mutasi yang muncul semakin besar,' ujar Prempree Na Songkhla, pimpinan redaksi majalah pertanian Kehakaset di Bangkok. Terbukti banyaknya kasus dengan sosok menyimpang yang ditemukan pada donna carmen dan pride of sumatera asli Indonesia. Karena berpenampilan nyeleneh, si mutan pun langsung menyedot perhatian peminat (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Evy Syariefa)

Source: www.trubus-online.co.id
Pic : Adelia Mutant - Koleksi Bung Moes

Selanjutnya Klik......

Creating Indoor Gardens

Indoor gardening can be tricky and there is definitely an art to doing it right. There are five important factors to consider when starting your own indoor garden; light, temperature, water, nutrition, and soil.

Light
Light is the main source of energy to manufacture food and different plants need differing amounts, which are designated as low, medium, high or very high light.

Temperature
Most varieties of indoor plants do well under normal household temperatures in the range of 70 to 80 degrees during the day and 60 to 65 degrees at night. Most tropical indoor plants will tolerate temperatures below that and can be damaged by ‘chilling injury’ if they are.

Water
One of the most common problems is improper watering. Some plants thrive in drier conditions while other must be kept moist at all times. Too little water can cause wilting and too much water can cause root rot problems.

Don’t let the surface of the soil be your guide. Be sure to feel the soil by pushing your finger in an inch or so below the soil’s surface to determine whether or not more water is needed. Another option is investing in a ‘watering meter,’ which can give you an easy and accurate indication of when your plants need watering.
Tap water is completely satisfactory for most indoor plants and once a month, plants should be put in the sink and watered thoroughly to leach salts from the soil.

Soil
Most nurseries sell a variety of soil mixes for indoor gardening and as long as they have good drainage abilities, are aerated and have good water and nutrient holding capacity, they will be very satisfactory. It is not necessary to use specialty mixes for most types of houseplants.

Fertilization
Most houseplants have reduced fertilizer requirements because of their indoor environment and nutritional problems usually result from overfertilization rather than lack of nourishment. In some cases, specialty fertilizers are needed, but they are the exception.

There are literally hundreds of plant species to choose from that are suitable for your indoor garden. Here is a list of some of the most common varieties.
African Violet - among the most popular of flowering indoor plants and are available in multiple colours.

Aglaonema - compact, low-growing and hardy. A tough plant well suited for the indoors.

Begonia - an excellent indoor plant if there is adequate light.

Cast-iron Plant - often overlooked but a very hardy plant that will persist under difficult conditions.

Coleus - commonly grown outdoors in summer for its colourful foliage. It is a good indoor plant if adequate light is provided.

Dracaena - common varieties include solid green or striped foliage. All are dependable plants, especially where height is needed.

Fern - some types suffer from low humidity indoors so they make a good kitchen or bathroom plant.

Ficus - tolerant of a wide range of environmental conditions but sometimes reacts to rapid changes in environment by almost total defoliation.

Geranium - popular outdoor plants as well as good indoor plants that will flower continuously if they are given adequate light.

Jade Plant - very susceptible to overwatering and resultant leaf drop.

Palm - not the easiest of indoor plants to grow, but popular because of their height and graceful character.

Peperomia - most are small compact plants, but leaf size, shape, texture, and coloration vary widely. Peperomias are easily overwatered.

Philodendron - there are numerous species and varieties cultivated, and they differ widely in growth habit, leaf size, and height.

Pothos - one of the easiest of indoor plants to grow, well adapted to hanging baskets.

Snake Plant - one of the easiest indoor plants to grow.

Spathiphyllum - one of the most satisfactory plants for low light situations.

Spider Plant - very easy to grow and is very adaptable for hanging baskets. All are susceptible to fluoride tip-burn from tap water so be careful.

Wandering Jew - fast growing, trailing plants. Many have variegated leaves. The underside of some are also brightly purple colored.

Wax Plant - some varieties are vigorous vines which climb by means of twining. Many have highly variegated foliage, which is sometimes deeply curled or crinkled.

Yucca - grow upright and stiff and may become somewhat grotesque in appearance with age. The plant is often confused with Dracaena, but require much higher light intensities.

Written By: Ann Zaza
Source :www.wnetwork.com
Picture :

Selanjutnya Klik......

Decorative plants work to absorb air pollution


Decorative plants can be grown almost anywhere and when placed around the yard, can make the home environment more pleasant.
Likewise, decorative plants grown in a pot can also beautify the interior of a home.
Nowadays, people are starting to look more closely at plants that absorb air pollution. Such plants offer double benefits: Apart from decorating a room, they also absorb poisonous substances that circulate in air.

According to the National Aeronautics and Space Administration (NASA)'s Report on Interior Plants for Indoor Air Pollution Abatement, there are as many as 29 varieties of decorative plants that are able to absorb pollution from the air.
"The best plants for absorbing poisons can be placed inside the home," said Saiful Sulun, an agricultural researcher from the Winasari Garden in Bogor, West Java.

According to environmentalists who cultivate decorative plants, small trees and shrubs that function as absorbents of air pollution are suitably placed inside the home or office. Likewise, in areas where people smoke.

Saiful, who was a speaker in a discussion on the properties of decorative plants at the 2008 Flora Exhibition, which was held at Banteng Field, Jakarta, in August, said there were some varieties of decorative plant that could be used as anti-pollution plants around the home.

Among them are the yellow palm (Chrysalindocarpus lutescens) the Paris lily (Cholorophyllum clevelandii), blanceng, or Chinese evergreen (Araceae), sirih gading (Scindapsus aureus), lidah buaya (Aloe vera) and lidah mertua, or sansieveira (Sansieviera trivasciata).

It has been proven that the lidah mertua (translated as "mother-in-law's tongue") plant, for example, has a special ability to neutralize polluted air: According to research conducted by NASA, the leaves of the lidah mertua are able to absorb formaldehyde at the rate of 0.938 grams/hour.

In a room measuring 75 square meters, for example, only four leaves of an adult sansieviera plant are required to keep the room free of pollutants.
Formaldehyde is a colorless gas that inhibits breathing. It can come from the smoke of burning forests, and the fumes from vehicle exhaust systems and cigarette smoke.
This dangerous gas is often used to preserve dead bodies, as a preservative in paint, an ingredient in cosmetics and medicines, and in timber processing.

The Paris lily and yellow palm are beneficial in absorbing carbon monoxide, a major air pollutant. This dangerous substance, which is produced from vehicle and factory emissions, is one of the principal gasses causing global warming.

Yellow palm varieties are known to be particularly useful as pollutant absorbers, as they are able to produce as much as one liter of water vapor in 24 hours, which allows this plant to soak up a larger volume of poisonous gasses.

The aglaonema plant (Aglaonema brevispathan) can also absorb formaldehyde and benzena. Benzena is a dangerous chemical compound that is found oil, fuel and cigarette smoke, which can cause vomiting and headaches in humans when exposed to high doses.
Saiful said decorative plants have the special ability of absorbing poisons, while being easy to maintain. The plants can be placed inside a room, but can also be moved outdoors.

"They have to be routinely looked after and get exposure to sunshine. That's why pot plants kept inside the home should be regularly put outside to sunbathe every two or three days," she said.

Saiful suggested alternating potted plants of the same variety, so that when one is sunbathing, a replacement is still present in the home. Organic fertilizers or compost can be used to maintain plant health.

In the plant trade, decorative plants and varieties of anti-pollutant plants are easily found. Prices vary depending on the plant varieties, their age and their features, such as the form of their leaves and colors.

At the Flora and Fauna 2008 Exhibition, a medium-size potted sansieviera plant was priced from between Rp 15,000 to Rp 50,000 (US$1.50 to $5). Meanwhile, aglaonema seedlings were priced at around Rp 25,000 ($2.50) per punnet.

Apart from making rooms more beautiful, it is clear that some decorative plants have other benefits. By using plants to absorb gases and pollutants in the home, an environment can be created that offers fresher, healthier air to breathe.

In this age of increased environmental awareness, improving our surroundings can begin in the home - it's as simple as keeping potted plants. (Bambang Parlupi , Contributor , Jakarta )
Source : www.thejakartapost.com
Picture: The lidah mertua (Sansieviera trivasciata- JP/Bambang Parlupi)

Selanjutnya Klik......

Sekilas Tentang PVT

Apa itu PVT? bagi masyarakat awam istilah ini sangat asing ditelinga, bahkan masyarakat petani yg secara kasat mata akan bersentuhan langsung dengan kepentingan varietas unggul suatu tanaman, bisa jadi baru mendengar istilah ini, Bagi komunitas kita yg notabene sebagai insan pecinta tanaman unik, eksklusif dan cenderung mengarah ke prestise, perlu juga memahami paling tidak seberapa perlunya PVT bagi masyarakat kita: Saya kutip ucapan Hindarwati kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman (PVT), PVT perlu “Agar bangsa Indonesia mampu membendung serbuan benih dari negara lain,” (bagi komunitas kita barangkali aglo-aglo dari Thailand).

Indonesia merupakan calon anggota Internasional Union for Protection New Varieties of Plants (UPOV), UPOV merupakan organisasi internasional untuk melindungi varietas tanaman baru. yg anggotanya sebanyak 66 negara, bayangkan Indonesia baru calon anggota, yg kita tahu kita adalah salah satu negara agraris terbesar di dunia, belum menjadi anggota UPOV (karena baru sedang menjalani proses menuju anggota). Gila bener ini.

Pantesan aglo-aglonya Greg lebih berkibar di negara lain ketimbang dinegeri sendiri, sedih rasanya tiap menjelang tahun baru Thailand mengirim ribuan pohon Pride of Sumatera ke Eropa untuk dijadikant buket, ironis dan ajaib sekaligus menyedihkan. Sementara pemiliknya tak berdaya alias tidak bisa berbuat apa-apa. Sengaja tulisan ini saya angkat ke komunitas milis kita, agar kita tahu sebenarnya kita bisa dengan ketat melindungi aglo-aglo local yang dihasilkan para pemulia tanaman hias, bukan cuma aglo tapi semua jenis tanaman.

Hari Jumat (7/11) telah diadakan seminar “Internasional Kerja sama Ekonomi Asia-Pasifik terkait Perlindungan Varietas Tanaman” di Jakarta.

Mulyono/085
(Penulis Member MASRI)
Photo: Koleksi Aglaonemaku

Selanjutnya Klik......

Selasa, November 04, 2008

Aglaonema - Flowers or Foliage on a Low Light Plant


Question: I have an Aglaonema that is growing what looks like little “pods”… What are they? Will they hurt the plant? Can I remove them? Katlin, Nashville, TN
Answer: I believe what you are describing is the “flower” of the Aglaonema. The Aglaonema also know as the “chinese evergeen” comes from the Aroid family. This plant family gives us many house plant varieties including the Spathiphyllum, Pothos Philodendron, Anthurium, the ZZ plant and of course the Aglaonema species, but there are others.

Most people are familiar with the Anthurium flower which has become a symbol for the Hawaiian Islands, or the ‘Peace Lily” (Spathiphyllum) one of the most popular houseplants grown around the world for its pure white "hoods" stands above its dark green foliage during the spring.

However, most people are not familiar with the Philodendron or Aglaonema flower. Generally they are not flashy and get lost among the foliage.
The Aglaonema can be a very prolific bloomer, and does at times confuse people. The "flower" is really an inflorescence (a group of flowers on a stem) and is often mistaken for a distorted leaf. This can lead to other mistakes in caring for this durable low light house plant by trying to "fix" the problem.

The flowers look very similar to a Spathiphyllum except for the fact they usually carry a "green hood" and a rather calcified looking spath coming out of it. The "flower" will typically be found below the foliage but can be found easily if you look.

Chinese Evergreen Flower Removal – Yes or No?

The question asked most often on this subject is flower removal – should you remove the flower? And… does it hurt the plant?
My recommendation is YES – remove the flowers. This goes for any variety of Aglaonema – from the species commutatum, Calypso to Silver Queen, Silver Bay or large BJ Freeman, The flowers serve no benefit – to the plant or to look at.

From my experience I’ve noticed an adverse effect from leaving the flower on the plant. Aglaonemas can bloom pretty heavy even if they are “blooms” are insignificant this flower production consumes a lot of energy. The heavy blooming pulls nutrients or energy from the plant. The net result – again from my experience – produces new leaves that are smaller, sometimes distorted and lacking in color appearing pale.

To prevent this potential problem, remove or cut off the flowers as they emerge. Just make sure that you remove the flower and not the leaf!!!
Aglaonemas are great indoor plants which hold up very well in low light and don't require lots of water. New hybrids like "Silver Bay”, “Silverado”, “Jewel of India” can "Calypso” introduced over the last few years are the “new breed” of Chinese Evergreens slowly making their way into the marketplace. These new varieties continue to make the Aglaonema one of the BEST house plants for indoor use.
source : www.plant-care.com

Selanjutnya Klik......

Chinese Evergreen - Versatile Widely Used Houseplant


Question: Can I plant my Chinese evergreen outside in a planter bed where it's shady. I know it's sold as an indoor hosueplant but I've seen some used outside at a mall in Florida when we were there. Lil, Minnesota
Answer: The "Chinese Evergreen" or Aglaonema are cold sensitive and should be grown in protected areas if used in any outdoor landscape (which is very rarely). The primary production of Aglaonema's as a group is for use indoors as houseplants where they can enjoy the same temperatures you do year-round.

Thousands of Aglaonema's are grown today for indoor use. They are available in most garden centers, grocery stores and nurseries that carry indoor houseplants. Although some varieties of Aglaonemas may only be found in some of the high-end garden centers and nurseries or by placing a special order with your favorite greenhouse. Some of the newer varieties or extreme slow growers like "Aglaonema costatum" are available in limited numbers and are generally purchased in smaller quantities by interior plantscapers.
Chinese Evergreen - Versatile Recognizable and Widely Used
The Chinese evergreen has become one of the most versatile, recognizable and widely used group of plants for indoor use. "Silver Queen" and "Emerald Beauty" have been one of the cornerstone plants for indoor use by the professional interior plantscaper for decades. With the many new varieties becoming available you can only expect the indoor gems to find more use in the indoor landscape.
I know you're wondering... Is it possible that you can have the same plant, indoors, for years? It's possible... by having the right information and applying it... you can enjoy your chinese evergeen for decades. Some of our Plant Care subscribers have been growing the same plant indoors for over 20 years.
source : www.plant-care.com

Selanjutnya Klik......

Belang di Mutu Manikam


Seribu restoran didatangi, seribu penolakan didapat. Itulah nasib Kolonel Harland Sanders waktu menawarkan paten resep ayam goreng miliknya. Penolakan demi penolakan juga dialami sepot bibit dud unyamanee di nurseri Wijaya, Bogor. Namun, waktu kemudian membuktikan: ayam goreng sang Kolonel beken seantero dunia sebagai Kentucky Fried Chicken. Dud unyamanee di Bogor jadi aglaonema mutasi berpenampilan cantik.

Bibit sri rejeki itu didatangkan Gunawan Widjaja dari Thailand akhir 2007. Ia datang berbarengan dengan 4.999 bibit dud unyamanee lain. Sayang, nasib mutu manikam-arti dud unyamanee-satu itu merana. Berpuluh bahkan beratus pembeli datang ke nurseri Wijaya, tak satu pun yang meliriknya.
Duduk perkaranya begini. 'Penampilan daun pertamanya jelek. Warna merah di daun sangat sedikit-hanya menyerupai titik. Yang dominan justru hijaunya,' tutur Gunawan. Padahal merah di dud unyamanee mestinya kuat. Daun kedua, warna merah mulai banyak tapi ada titik-titik putih yang memberi kesan kotor. Pantas ia selalu tersisih-tidak dipilih pembeli.
Namun, ketika daun ketiga keluar, aglaonema hasil perbanyakan kultur meristem itu mulai menampakkan kecantikannya. Titik-titik putih kian banyak. Kelir itu berpadu dengan kombinasi hijau merah khas dud unyamanee. Rupa-rupanya anggota famili Araceae itu bermutasi menjadi variegata. Kini sang mutu manikam tampil elok dengan 9 daun berpola hijau-merah-putih yang langka.
Grup chimera
Mutasi juga membuat penampilan legacy koleksi Suparman beda. Mestinya sri rejeki itu didominasi warna merah kejinggaan. Yang dimiliki Suparman justru dominan putih gading dengan aksen bercak hijau. Dengan pola warna seperti itu penampilan aglaonema asal negeri Siam itu pun terlihat anggun.
Penelusuran Trubus, legacy salah satu sri rejeki yang banyak mengalami mutasi warna. Di lomba tanaman hias Suan Luang, Bangkok, pada Desember 2006 ada legacy hijau dan merah menjadi peserta. Di nurseri Wijaya ada legacy bertulang violet. Menurut Gregori Garnadi Hambali, pakar botani yang juga penyilang aglaonema, peluang sri rejeki bermutasi kian besar jika kerap diperbanyak.
Hal itu sejalan dengan yang diungkap oleh Dr Ir Syarifah Iis Aisyah, MSc Agr. 'Peluang mutasi pada aglaonema besar,' tutur pakar dari Institut Pertanian Bogor itu kepada Laksita Wijayanti, wartawan Trubus. Aglaonema, bersama puring, termasuk tanaman grup chimera. Maksudnya secara alami tanaman itu mudah mengalami mutasi. Itu karena satu sifat-dalam hal ini warna-dikendalikan oleh banyak gen. Jika satu gen berubah, maka variasi sifat itu dengan mudah berubah pula. Perubahan atau mutasi di tingkat gen biasanya terjadi pada saat sel-sel berdiferensiasi. Ini kondisi sel ketika tanaman diperbanyak.
Tanaman indoor
Toh, aglaonema cantik tak melulu didapat karena mutasi. Tangan-tangan penyilang di negeri Gajah Putih melahirkan varian lipstik terbaru. New lipstick berpulas warna merah muda di tepi daun. Dasar daun bernuansa kuning. Lipstik klasik bertepi merah. Kelebihan lain lipstik baru: sosok pendek, kompak, daun kecil tapi bentuknya melebar, rata, dan tangkai pendek.
Jenis baru lain sri rejeki berwarna hijau. Warnanya memang kurang mentereng, tapi pendatang dari tanah Siam itu kompak. Susunan daunnya padat, tapi terlihat gemulai. 'Yang pasti ia tahan diletakkan di dalam ruangan sehingga cocok sebagai indoor plant,' ujar Gunawan. Si hijau itu juara kelas hijau di kontes Thailand.
Nuansa hijau juga dimiliki aglaonema koleksi Tirto Hartono di Jakarta Barat. Yang membuat menarik, tulang daunnya merah muda. Kerabat alokasia itu pun bandel-tidak gampang terkena penyakit. Penampilan sri rejeki dari Thailand itu mirip dengan silangan dr Purbo Djojokusumo. Hanya saja silangan Purbo ukuran daun besar dan cenderung membulat. Sayang paduan warna hijau dan merah muda masih bleber.
Penyilang Thailand memang getol menghasilkan jenis baru yang apik. Pantas bila di setiap kontes selalu ada kelas hibrida baru. Itu yang dilihat Rosy Nur Apriyanti, wartawan Trubus, di Nonthaburi, Thailand pada Agustus 2008. Di kelas new hybrid si merah dengan pulasan keemasan jadi pemenang. Kontestan lain juga elok. Sebut saja aglaonema merah polos dan mengkilap, sri rejeki perpaduan warna hijau muda dan merah muda, serta merah berdaun bulat. Dari mutasi atau silangan, sang ratu tetap memikat. (Evy Syariefa)
Source : www.trubus-online.co.id
Gambar : Koleksi Aglaonemaku

Selanjutnya Klik......

Hobi Tanaman Rp1- M

Suasana vila di puncak bukit di kawasan nan dingin Tretes, Kabupaten Pasuruan, itu begitu asri. Selepas gerbang yang terbuat dari kayu meranti, jalan yang lebarnya cuma bisa dilalui 1 mobil menuntun tamu ke vila bergaya minimalis modern. Di samping kiri pintu masuk sesosok Encephalartos lehmannii setinggi 50 cm dan diameter 20 cm gagah menyambut. Banderol blue encephalartos itu saat diboyong dari Thailand 5 tahun silam Rp60-juta!

Kesan maskulin palem roti yang tumbuh alami di Afrika Selatan itu kontras dengan gemulai nolina di pojok taman dekat selasar penghubung ruang tamu dan ruang santai. Beaucarnea recurvata itu menjulang jangkung setinggi 4 m-hampir menyentuh atap rumah. Pony tail palm yang habitat aslinya di Meksiko itu juga diapungkan dari negeri Siam. Harganya Rp80-juta.

Memasuki areal taman ruang santai yang berpemandangan ke arah Surabaya ada Cycas rumphii 'purba'. Julukan itu pantas ditilik dari susunan ruas batangnya yang sangat rapat. Jumlahnya lebih dari 100 ruas. Setiap ruas mewakili hitungan tahun umur tanaman. Artinya umur anggota famili Cycadaceae asli Australia Utara itu lewat dari 100 tahun! Pantas penampilannya meraksasa: tinggi batang 1,7 m, tinggi tajuk, 2,5 m; bentangan tajuk 4 m. Kusnadi Halim, si pemilik, mesti membayar Rp100-juta demi mendapat si jangkung.

Toh, bukan semata-mata karena berisi koleksi tanaman mahal jika setiap akhir pekan Kusnadi Halim betah ngendon di sana. Suasana asri vila berlokasi di ketinggian 950 m dpl itu memang membuat kerasan. Kesan hijau kian kuat dengan kehadiran 4 E. lehmannii, 2 E. horridus, 2 E. princeps, Cycas 'Glen Idle Blue', Zamia skinneri, dan drasena yang bonggolnya pecah-pecah seperti tempurung kura-kura di sekitar bangunan utama.

Kira-kira 10 m dari situ ada gazebo berhias air terjun mini. Di tepi kolamnya Kusnadi menanam 2 blackboy Xanthorrhoea australis setinggi 40 cm dan 60 cm. Blackboy juga mengisi taman di dekat ruang barbeque. Si batang hitam itu bergandengan dengan Macrozamia moorei, serta-lagi-lagi-E. lehmanii dan Cycas 'Glen Idle Blue'.

Obat jiwa

Ketika embun masih menempel di dedaunan Kusnadi sudah berkeliling taman seluas total 2 ha. Jika terlihat ada tanaman yang sedikit saja merana, Alex Santoso Halim-tenaga ahli kebun-siap-siap kena omelan. Maklum bagi pengusaha tambak bandeng untuk ekspor itu tanaman adalah belahan jiwanya.
Kolektor kuda pacu itu tidak sendirian mabuk kepayang karena tanaman. Di Jakarta seorang pria nekat membongkar bangunan rumah di sebuah hunian elit menjadi tanah rata seluas 3.000 m2. Di atas tanah itu lalu dibuat undak-undakan dari batu alam hingga menyerupai gunung.

Di beberapa bagian dibuat jalan setapak sehingga orang bisa berjalan hingga ke puncak. Di 'gunung' itulah ia menanam keluarga sikas-sikasan. Bukan jenis biasa tapi yang spektakuler. Sebut saja 65 E. hirsutus berbagai ukuran yang membuat Michael D Ferirera, jagoan tanaman hias dari Australia, terbelalak.

Di dunia sikas, hirsutus salah satu idaman. Di alam sudah sangat langka. Warna daunnya biru mempesona. Nurseri-nurseri besar di Afrika Selatan-habitat aslinya-pun hanya punya 1-2 tanaman. Harganya jangan ditanya. Salah satu yang berpola variegata banderolnya US$20.000-US$25.000 setara Rp200-juta-Rp250-juta. 'Itu surganya encephalartos,' kata Chandra Gunawan yang banyak mengoleksi tanaman variegata.

Namun, buat para kolektor memiliki tanaman mahal bukan sekadar urusan membelanjakan rupiah. Ada yang lebih bernilai ketimbang melulu uang. 'Tanaman itu penghilang stres,' ujar drg Thomas Aquinas W Santoso. Minimal 3 kali sehari alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti itu 'menyantap' obat stresnya. Pukul 06.00 sebelum berangkat praktek, pukul 12.00 sepulang praktek pagi, dan pukul 22.00 setelah praktek sore.

Cangkul di Florida

Pada jam-jam itu ayah 1 anak itu pasti ada di teras atau dak lantai 2 rumah. Di sana ia menimang-nimang tanaman koleksi seperti E. munchii dan E. turneri variegata yang baru dibeli 3 bulan silam. Kaudeks munchii baru seukuran bola kasti dengan 4 daun. Daun yang lazimnya kebiru-biruan justru kuning cerah. Harganya? Sekadar perbandingan E. munchii normal berkaudeks 5 cm di salah satu nurseri di Amerika Serikat US$600 setara Rp5,4- juta.

Koleksi lain, Zamia vasquezii berdaun kaku, Zamia furfuracea yang batangnya seperti berserabut, Z. furfuracea berbentuk seperti keong berduri, Z. furfuracea variegata dan berdaun keriting, E. horridus berdaun ekstrarapat, hingga beragam sansevieria variegata.

Bila sudah bertemu dengan para pujaan hati, pangkat, jabatan, dan status sosial para penggila tanaman itu tidak berarti. Di Tangerang, Edi Sebayang yang biasa membawahi ratusan karyawan di perusahaan kayu milik sendiri rela blusuk-blusuk masuk ke perkampungan mencari tanaman aneh. Husny Bahasuan, direktur perusahaan sarung BHS Tex, kerap membawa adenium kesayangan masuk ke kamar. Di sana ia merepotting mawar gurun itu sembari menonton acara televisi.

Sehari-hari Harry Setiawan berbisnis makanan jadi dan mi. Namun, setiap akhir pekan tangan pemenang lelang aglaonema harlequin senilai Rp660-juta itu belepotan media tanam aglaonema.

Polah untuk mendapatkan tanaman pun kerap membuat kening berkernyit. Aris Andi rela menempuh perjalanan darat selama 6 jam dari Bangkok menuju sebuah kota kecil. Di sana ada Dion spinulosum istimewa. Diameter bulb 14 cm, tinggi bulb 35 cm. Tinggi total tanaman 2 m. Yang membetot hati, pelepah daun berwarna kuning-umumnya hijau.

Iwan Hendrayanta sudah melepas Yucca rostrata alba koleksi pada hobiis di Solo senilai Rp45-juta. Namun, setelah itu kelahiran Makassar itu jadi tidak bisa tidur tenang. Yucca berdaun putih keperakan itu selalu membayang di depan mata. Akhirnya dengan dibarter encephalartos dan uang Rp60-juta yucca kembali ke pangkuan.

Edi Sebayang sejatinya cuma kesengsem pada Sansevieria 'Dragon King'. Namun, kolektor ayam serama itu mau tak mau memborong seisi kebun si empunya dragon king. Itu syarat untuk si empunya melepas sansevieria yang di dunia hanya ada 5 tanaman itu.

Abadi

Kenekatan para hobiis untuk mendapat tanaman incaran kadang menyerempet bahaya. Jantung seorang kolektor berdegup keras ketika memasuki bandara internasional di Cape Town, Afrika Selatan. Musababnya di dalam koper ada 50 encephalartos senilai Rp200-juta. Ia membeli tanaman itu secara legal dari Kebun Raya Kirstenbosch. Namun, yang membuat keringat dingin ia tidak sempat mengurus izin impor ke pihak berwenang.

Bila koper dipindai dan terlihat ada encephalartos urusan bisa panjang. 'Untung saja waktu itu tidak ada pemeriksaan X-ray untuk penerbangan lanjutan,' ujarnya lega.
Pengalaman Usnelly Usman tak kalah mendebarkan. Ia sempat diberondong peluru dari senapan milik tentara di sebuah bukit di Aden, Yaman. Itu gara-gara Nelly asyik mengabadikan habitat Adenium arabicum. Untung saja lutut yang nyaris copot terbayar dengan adenium-adenium spektakuler yang ia peroleh dari sana. Sebut saja arabicum yaman berbatang merah dan arabicum golden.

Penelusuran Trubus, kelompok Cycads jadi koleksi utama kolektor kakap. Itu karena, 'Kesannya abadi,' ujar Kusnadi. Nyaris seluruh sikas-sikasan lamban tumbuh. Bentuk tanaman seperti tidak berubah-abadi-meski berumur puluhan tahun. Iwan Hendrayanta salah satu saksinya. Pada 1994 pengusaha perusahaan pemakaman itu menanam E. natalensis di taman di rumah barunya di kawasan Permatahijau, Jakarta Selatan. Palem roti seharga Rp2,7-juta itu ditata berdampingan dengan bromelia, palem-paleman, soka, dan heliconia.

Baru setahun lewat, taman yang semula apik terlihat berantakan. 'Semua tanaman ukurannya cepat membesar dan tajuknya tak beraturan,' keluh ayah putri kembar Nabila Chiara dan Nadira Chianti itu. Satu-satunya yang tidak berubah encephalartos. Jadilah sejak itu keluarga Cycads satu per satu memenuhi tamannya. Ada 50 encephalartos berbagai jenis dengan kisaran harga Rp15-juta-Rp75-juta/tanaman disana. 'Total sekitar Rp1-miliar-Rp1,5-miliar,' kata si empunya.

Lagipula ence dan kerabatnya berkesan gagah dan maskulin. Di halaman rumah Chandra Gunawan yang lapang, sepasang Microcycas menjuntaikan daun raksasa sepanjang lebih dari 1,5 m. Satu-satunya sikas yang epifit itu berasal dari tepian pantai di Panama yang menghadap Samudera Atlantik. Empasan angin bercampur garam membuat kerabat zamia itu tahan banting. Harganya sepasang US$ 30.000 setara Rp300-juta.

Kesan maskulin juga ada pada bonsai dan adenium-terutama jenis nonobesum. Soeroso Soemopawiro mendapat 7 indukan sancang dari Thailand pada 2001. Harga setiap induk Rp10-juta. Di tanahair bahan bonsai populer itu diperbanyak dengan cangkok. Hasil cangkok ditata di atas relief pegunungan. Hasilnya miniatur alam pegunungan yang gagah. Contoh lain adenium asal Tanzania koleksi Rusli Hadinata. Kaudeksnya membulat menyerupai botol dengan tinggi 25 cm lebar 32 cm. Warnanya yang keemasan terlihat megah.

Anak tiri

Target buruan lain ialah tanaman mutasi: bentuk maupun warna. Soeroso Soemopawiro kesengsem pada euphorbia kristata. Batang anggota famili Euphorbiaceae itu melekuk-lekuk membentuk bidang setinggi 40 cm dan lebar 50 cm. Batang crown of god lazimnya langsung meninggi. Cycas revoluta setinggi 60 cm yang seluruh daunnya berwarna kuning jadi klangenan Kusnadi. Koleksi lain Cycas revoluta berdaun keriting dan yang daunnya separuh hijau separuh kuning. Ketiganya didapat dengan merogoh kocek Rp180-juta.

Tanaman mutasi elok lainnya, gasteria variegata, adenium variegata, dan zamia berdaun rawing koleksi Rusli Hadinata, S. gracilis variegata (Edi Sebayang), serta Pandanus utilis variegata dan kaktus berbatang melintir dan miring seperti menara Piza (Chandra Gunawan). Boleh dibilang Indonesia jadi terminal tanaman elok-dan juga mahal-dunia.
Tak dipungkiri mengoleksi tanaman mahal juga berarti prestise. 'Saya inginnya mengoleksi tanaman yang orang lain tidak punya,' kata Husny Bahasuan.

Gara-gara gaya seperti itu banyak tanaman elok kerap tergusur dari deretan koleksinya. Pada 2002 direktur 6.000 karyawan itu mengumpulkan adenium dan aglaonema koleksi terbaru. Waktu itu mawar gurun dan sri rejeki memang mulai naik daun. Harganya masih melangit. Contohnya harga tiara ketika itu Rp3-juta per daun. Sekarang sudah kurang dari setengahnya.

Perlahan 2 belahan jiwa Husny turun pamornya. Harga jauh lebih terjangkau sehingga banyak yang memiliki. Pria yang senang berkaos itu lantas menggusur adenium dari kebun koleksi di Trawas dan Surabaya. Shabi star itu ditanam berjejer di halaman pabrik di Surabaya. Kini penggemar bonsai itu tengah gandrung mengumpulkan tanaman berbonggol alias caudiciform dan euphorbia nonmilii. 'Ini unik dan jarang yang punya,' kata Husny.

Minimal ada 40 caudiciform sudah ia koleksi. Salah satu yang istimewa Raphionacme procumbens. Tanaman itu cuma berupa bonggol seperti batu bundar yang permukaannya datar. Diameternya sekitar 25 cm. Meski sudah setahun tidak mengeluarkan daun, sebetulnya ia masih hidup. Buat para kolektor, cinta selalu membara untuk tanaman pujaan. (Evy Syariefa/Peliput: Destika Cahyana, Imam Wiguna, Nesia Artdiyasa, Rosy Nur Apriyanti, dan Tri Susanti)
Source : www.trubus-online.co.id

Selanjutnya Klik......

Polesan Secantik Mung Mee Srisuk


Penampilan cochine berpaduan warna merah cerah dan hijau pekat milik Songgo Tjahaja, kolektor di Jakarta Barat, itu mempesona. Di dalam pot berdiameter 50 cm, sebatang indukan dikelilingi anakan-anakan hingga membentuk tajuk selebar 1 m. Yang istimewa, sosok tanaman sehat, ukuran daun seragam, dan warna cerah.

Lalu masih ingat pada mung mee srisuk? Aglaonema turunan cochinchinense itu meraih gelar terbaik di kontes tanaman hias Flora dan Fauna 2005. Sosoknya kompak, rimbun, dan warnanya merah pekat menarik. Penampilan dan prestasi yang terbilang spektakuler karena cochine dan turunannya sulit dirawat. Punya cochine prima patut diacungi jempol.

Lihatlah apa yang dialami Gunawan Widjaja di Sentul, Bogor. Aglaonema turunan cochine miliknya mati lantaran busuk. Mula-mula daun menguning, lalu mengering satu per satu. Usut punya usut ternyata media yang digunakan terlalu lembap. Pemilik nurseri Wijaya Orchids itu menggunakan cocopeat sebagai salah satu campuran media.

Sifat cocopeat mengikat air. Padahal, anggota famili Araceae itu menyukai media porous, kering, dan cenderung basa. Maklum, di habitat asal-Myanmar, selatan Thailand, Kamboja, dan Vietnam Selatan-cochine hidup di antara semak-semak tandus atau di bawahnya. Kerabat anthurium itu tumbuh di daerah gersang berbatu dan bukit berkapur.

Pantas Gunawan lantas mengganti bahan media dengan pasir agar porous. Para hobiis sepakat, media kunci sukses merawat cochine agar prima. Di Semarang media yang dipakai campuran sekam bakar yang telah diayak dan pasir malang dengan perbandingan 4:1. Untuk menaikkan pH, ditambahkan kapur dolomit sebanyak 5% dari komposisi media.
Bila rata-rata aglaonema tumbuh maksimal pada pH 6-6,5, cochine dan turunannya tumbuh bagus pada pH 7-8. Pada kondisi itu pertumbuhan tanaman lebih cepat 2-3 kali lipat. Media basa juga membuat warna daun lebih cerah.

Husny Bahasuan di Surabaya menggunakan campuran media seperti di Semarang. Hanya saja perbandingannya berbeda, 3 bagian sekam bakar dan 1 bagian pasir malang. Menurut pemilik perusahaan sarung BHS-Tex itu, cochine dan hibridanya lebih rentan serangan penyakit karena ringkih. Jika media terlalu basah, cendawan datang menyerang akar. Akar busuk dan tanaman mati.

Akar besar

Sifat cochine mirip Caladium sp. Bila media asam dan lingkungan tidak menguntungkan ia dorman atau berhenti tumbuh. Kalau biasanya setiap bulan muncul 1 daun, bisa-bisa dalam 2 bulan tak ada daun muncul.
Cochine dan turunannya memiliki akar besar yang berfungsi menyimpan air dan cadangan makanan. Maklum, ia hidup di daerah bebatuan. Oleh karena itu, menurut Greg Hambali, penyilang aglaonema di Bogor, frekuensi penyiraman sri rejeki itu jangan terlalu sering. Frekuensi cukup 2-3 hari sekali hingga media basah.

Cochine lebih menyukai sinar matahari dibandingkan jenis lain. Karenanya letakkan chinese evergreen itu di tempat yang lebih terang. Bila sri rejeki lain diletakkan di bawah jaring peneduh 60-70%, maka cochine dan hibridanya, 40-50%. Itu berlaku buat hibrida cochine hijau yang senang panas. Sedangkan turunan cochine yang berwarna merah membutuhkan naungan 75%. Selain itu sirkulasi udara harus lancar dan lebih kering.

Agar penampilan dan pertumbuhan tanaman lebih maksimal, berikan pupuk lengkap mengandung unsur mikro satu minggu sekali. Contohnya, Vitabloom, Kristalon, Gandasil, atau Growmore. Dosisnya 1-2 g/l air. Untuk mencerahkan warna daun, berikan pupuk dengan mengutamakan unsur mikro seperti Fe, Mg, Mn, dan Zn. Dengan perawatan yang tepat cochine dan turunannya tampil prima seperti mung mee srisuk.(Rosy Nur Apriyanti)
source :www.trubus-online.co.id

Selanjutnya Klik......

PR - KU

S E L E S A I .... BEBAS EUY... ehhhh ada lagi yang kasih PR tapi aku lupa siapa yaaaa yang kasih PR... waktu itu kerjaan ku overload jadi aku minta waktu nah saat ini sedikit lenggang mohon

PENTERJEMAHKU